Cegah Kekerasan Seksual Anak dengan Pengasuhan yang Layak

Iklan Pos, Jakarta – Meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak membuat banyak pihak khawatir. Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Nahar juga meminta semua pihak meningkatkan pengawasan dan memastikan penanganan yang tepat terhadap anak guna mencegah kasus pelecehan seksual terhadap anak di kemudian hari.

Kasus ini menjadi wake up call bagi semua pihak untuk meningkatkan pengawasan dan memberikan pengasuhan yang memadai terhadap anak-anak agar kejadian yang sama tidak terulang atau terulang di tempat lain, ujarnya, Jumat, 19 Januari 2024. Ia menanggapi kasus tersebut. . . dugaan pelecehan seksual terhadap anak TK di Pekanbaru, Riau.

Berdasarkan analisis kami, penting untuk meningkatkan pemahaman anak tentang apa yang tidak boleh dilakukan, terutama dalam konteks kekerasan seksual.

Selain itu, orang tua, keluarga, guru, dan masyarakat harus meningkatkan pemantauan terhadap perilaku berisiko anak. “Dalam hal ini orang tua berperan besar dalam proses pengasuhan dan pemberian pendidikan dini kepada anak,” kata Nahar.

Kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan bocah lelaki berusia lima tahun terhadap teman sekelasnya di Pekanbaru, Riau ramai diperbincangkan di media sosial. Peristiwa ini disebut-sebut terjadi pada Oktober 2023 dan baru terungkap pada awal November 2023. Peristiwa ini juga berdampak buruk pada kondisi mental dan perubahan perilaku anak korban dan anak yang berhadapan dengan hukum.

Oleh karena itu, rehabilitasi kedua anak pasca kejadian tersebut penting dilakukan sebagai bentuk penegakan hak atas perlindungan. “Rehabilitasi atau intervensi psikologis diperlukan untuk pulih dari dampak negatif kekerasan seksual,” ujarnya.

Pilihan Editor: Pelajari tentang bahaya pelecehan seksual terhadap anak dengan diskusi

Demonstrasi mahasiswa di Mahkamah Konstitusi menentang kecurangan pemilu yang dilakukan sekelompok orang. Lagi

Polda DIY berencana menyiapkan kasus ini ke kejaksaan pada pekan depan. Lagi

Salah satu mahasiswa Universitas Trilogi diserang secara fisik, akibatnya ia dipukul di bagian dahi. Ketua BEM ini mengaku rekan-rekannya masih khawatir. Lagi

Melky Sedek Huang kini menunggu hasil sidang ulang kasus pelecehan seksual tersebut. Lagi

Komentar tersebut dibagikan di media sosial oleh X, salah satu saksi kasus pelecehan seksual yang melibatkan jurnalis Melky Sedek Huang. Lagi

Dalam kasus penangkapan dan pemerasan ini, pasangan suami istri pemilik perusahaan D’Paragon dan 3 karyawannya telah ditetapkan sebagai tersangka. Lagi

Dalam debat calon presiden, Anies Baswedan menyoroti tiga isu terkait isu perempuan, yakni kontrasepsi, persyaratan panti asuhan, dan kekerasan terhadap perempuan. Lagi

Anggota DPR itu menegaskan, penurunan angka pengasuhan tidak layak di Indonesia, termasuk pernikahan anak, tidak merata, ini usulannya. Lagi

Penyelenggara dan peserta rapat konsolidasi mahasiswa diancam dan diserang dengan kekerasan di ruang publik Universitas Trilogi, Jakarta. Lagi

Satgas PPKS UI membantah pengusutan kasus pelecehan seksual tidak transparan karena Melky Sedek Huang hanya diinterogasi satu kali. Lagi

Termasuk Tindak Pidana, Mengapa Ada Perempuan yang Anggap Catcalling Biasa Saja?

Iklan Pos, JAKARTA — Direktur LBH APIK Jawa Barat Ratna Batara Munti mengingatkan masyarakat tidak boleh ada pelecehan atau kekerasan seksual terhadap perempuan, termasuk kekerasan terhadap perempuan. Catcalling adalah pelecehan seksual secara verbal dengan menggunakan kata-kata tidak senonoh di muka umum.

Iklan Pos mengutip Ratna pada Minggu (11/2/2024): “Siapa pun, setiap perempuan bisa menjadi korban. Seperti ‘Hei cantik, mau kemana’, itu komentar yang menghina atau whistle-blowing.” .

Catcalling diatur dalam UU Nomor 6664. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Perbuatan ini masuk dalam kategori kekerasan seksual non fisik.

Ancaman pidana terhadap perilaku yang mempermalukan, termasuk pelecehan verbal dan nonverbal, paling lama sembilan bulan penjara. Bagaimana jika perempuan yang menjadi sasaran kritik menganggap hal tersebut wajar?

“Penyerangan non fisik ini merupakan delik aduan. Jadi kalau korbannya tidak ada masalah dan hanya ingin ganti rugi, tapi tidak melaporkannya. Bahkan, mereka punya pilihan untuk memberitahu pelaku atau mengambil tindakan atau menghadapinya. Itu hak mereka,” jelas Ratna.

Cat-calling, yang merupakan tindak pidana yang dapat didakwakan bagi orang dewasa, dijelaskan dalam Pasal 5 UU Nomor 5. 12/2022. Namun, tuntutan hukum terhadap anak dan penyandang disabilitas juga dapat diajukan oleh orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut atau menyaksikan tindak pidana kekerasan seksual.