Termasuk Tindak Pidana, Mengapa Ada Perempuan yang Anggap Catcalling Biasa Saja?

Iklan Pos, JAKARTA — Direktur LBH APIK Jawa Barat Ratna Batara Munti mengingatkan masyarakat tidak boleh ada pelecehan atau kekerasan seksual terhadap perempuan, termasuk kekerasan terhadap perempuan. Catcalling adalah pelecehan seksual secara verbal dengan menggunakan kata-kata tidak senonoh di muka umum.

Iklan Pos mengutip Ratna pada Minggu (11/2/2024): “Siapa pun, setiap perempuan bisa menjadi korban. Seperti ‘Hei cantik, mau kemana’, itu komentar yang menghina atau whistle-blowing.” .

Catcalling diatur dalam UU Nomor 6664. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Perbuatan ini masuk dalam kategori kekerasan seksual non fisik.

Ancaman pidana terhadap perilaku yang mempermalukan, termasuk pelecehan verbal dan nonverbal, paling lama sembilan bulan penjara. Bagaimana jika perempuan yang menjadi sasaran kritik menganggap hal tersebut wajar?

“Penyerangan non fisik ini merupakan delik aduan. Jadi kalau korbannya tidak ada masalah dan hanya ingin ganti rugi, tapi tidak melaporkannya. Bahkan, mereka punya pilihan untuk memberitahu pelaku atau mengambil tindakan atau menghadapinya. Itu hak mereka,” jelas Ratna.

Cat-calling, yang merupakan tindak pidana yang dapat didakwakan bagi orang dewasa, dijelaskan dalam Pasal 5 UU Nomor 5. 12/2022. Namun, tuntutan hukum terhadap anak dan penyandang disabilitas juga dapat diajukan oleh orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut atau menyaksikan tindak pidana kekerasan seksual.