Video AI Jadi Realistis, Google Hadirkan Fitur Lumiere

CUPERTINO – Lumiere, fitur siaran spasial yang dikembangkan oleh Google AI, semakin mendekatkan kita pada video nyata yang kompatibel dengan kecerdasan buatan.

BACA JUGA – Galaxy AI Hadir pada 2024, Jadi Desain Smartphone Pertama dengan Kecerdasan Buatan Generatif

Berbeda dengan model text-to-video lainnya yang menghasilkan video frame demi frame, Lumiere dapat memproduksi video dalam satu product pass, sehingga menghasilkan gerakan yang halus dan alami.

Seperti dilansir The Verge, berikut beberapa fitur utama Lumiere yang membuatnya begitu mengesankan:

Realisme: Video yang dihasilkan oleh Lumiere sangat realistis, dengan animasi yang detail dan natural. Hal ini berkat arsitektur U-Net real-time barunya, yang memungkinkan model mempelajari dan memberikan representasi 3D dunia yang lebih baik.

Koherensi: Video Lumiere tidak hanya bersifat fisik tetapi juga koheren. Artinya semuanya berjalan lancar dan teratur, dan tidak ada artefak atau lompatan yang aneh. Hal ini berkat kemampuan model untuk memprediksi bagaimana sesuatu akan berpindah dari satu frame ke frame lainnya.

Aspek: Lumiere dapat menghasilkan video dari berbagai format, termasuk video langsung, animasi, animasi, dan bahkan grafik. Hal ini berkat kemampuan model untuk beradaptasi dengan berbagai jenis masukan teks.

Meski Lumiere masih dalam tahap penelitian, namun potensinya sangat besar. Model ini dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, seperti pembuatan film, desain game, dan bahkan pendidikan.

Misalnya Lumiere dapat digunakan untuk membuat video latihan yang realistis dan menghibur atau untuk membuat permainan dengan suasana yang dinamis dan tenang.

Secara keseluruhan, Lumiere merupakan langkah maju yang besar dalam bidang video AI. Produk ini semakin mendekatkan kita pada AI video yang realistis, terukur, dan akurat.

Dihadiri Shah Rukh Khan, WGS Siap Kumpulkan 100 Perusahaan AI di Dubai

DUBAI – Kecerdasan buatan (AI) akan menjadi pusat diskusi pada World Government Summit (WGS) tahun ini yang akan diadakan di Dubai pada 12-14 Februari.

Menyadari dampaknya yang besar terhadap berbagai sektor dan potensinya untuk mentransformasi dunia, konferensi bertajuk Membentuk Pemerintahan Masa Depan ini berupaya untuk menggali lebih dalam mengenai AI baru dalam pemerintahan.

Dengan hadirnya lebih dari 100 tokoh AI dan pemimpin bisnis serta perwakilan pemerintah dan pakar industri, diskusi pada konferensi ini diperkirakan akan berfokus pada pemberdayaan pemerintah untuk menerapkan AI lanskap secara efektif.

Peserta lainnya termasuk beberapa pejabat penting pemerintah, Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Mesir, Dr. Amr Talaat; Menteri Perdagangan Amerika Serikat untuk Intelijen Kathi Vidal; Menteri Komunikasi dan Informatika Mesir, Ulvi Mehdiyev dan Direktur Badan Kepegawaian dan Inovasi Sosial Azerbaijan, Mohamed Abdallahi Louly.

Hadir pula para pemimpin industri AI seperti Sam Altman, CEO Open AI, dan Jensen Huang, pendiri dan CEO NVIDIA; CEO SandboxAQ, Jack Hiary; CEO Beyond Limits AJ Abdallat dan CTO Amazon Werner Vogels akan memberikan pandangannya.

Bintang Bollywood Shah Rukh Khan juga akan hadir pada 14 Februari untuk sesi wawancara – penampilan pertama sang aktor di sebuah forum populer.

Khan, seorang tokoh populer dalam budaya India, akan memimpin diskusi selama 15 menit tentang ketenaran dan kekayaannya dalam sesi bertajuk ‘The Make of a Star: A Conversation with Shah Rukh Khan’.

Agenda konferensi ini menekankan keterlibatan dalam memperkuat peran pemerintah dalam menghadapi tantangan AI dan memanfaatkan potensi besarnya.

Menghadirkan enam topik utama dan 15 sesi, WGS edisi 2024 akan mengeksplorasi berbagai aspek AI, mulai dari manajemen proyek hingga pendidikan dan pembangunan infrastruktur, dengan tujuan untuk mendorong kerja sama internasional dan mendorong kemajuan AI demi kepentingan semua orang.

Konferensi Kecerdasan Buatan menjadi hal yang menarik karena berfungsi sebagai platform untuk menciptakan kolaborasi lintas sektoral dan mempromosikan praktik AI yang bertanggung jawab.

Diskusi ini bertujuan untuk menciptakan konsensus global mengenai etika AI, mempromosikan kemampuan AI melalui pendidikan dan perencanaan sumber daya, serta membuat kebijakan masa depan yang akan membantu menciptakan hal-hal baru berdasarkan AI.

WGS juga menyelenggarakan lebih dari 23 konferensi tingkat menteri dan regional, 85 konferensi internasional, regional dan federal, serta lebih dari 120 lokakarya dan seminar. – Namanya

Soal Pengembangan AI, Pakar Sebut 2024 Serangan Ransomware Lebih Canggih

Iklan Pos, JAKARTA – Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang saat ini semakin meluas dan meluas.

Ia mengimbau masyarakat mewaspadai informasi tersebut karena dapat sangat mempengaruhi keamanan internet.

BACA JUGA: Berkomitmen pada keamanan siber, MTM menerima penghargaan dari BSSN

Pratama menjelaskan, Generative AI atau Gen AI merupakan sebutan untuk teknologi AI yang dapat menghasilkan konten, gambar, teks, atau data baru yang memiliki karakteristik mirip manusia.

Gen AI telah diterapkan di berbagai bidang, seperti pembuatan gambar nyata, pembuatan dokumen, bahkan untuk keamanan siber, kata Pratama memprediksi ancaman siber pada tahun 2024 melalui percakapan online dengan WhatsApp di ANTARA di Semarang, Senin (1/ 1).

BACA JUGA: Inilah Pentingnya Keamanan Siber bagi UMKM di Era Digital

Pria yang merupakan Ketua CISSReC CyberSecurity Research Institute ini mengungkapkan, ancaman yang ditimbulkan oleh peretasan dan pengiriman layanan pesan atau SMS mungkin sulit diidentifikasi.

Sebab, kata dia, ada sedikit kesalahan ejaan dan tata bahasa.

BACA LEBIH LANJUT: PJCI dan Huawei bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber di sektor energi

Dengan mengakses informasi seperti nama, perusahaan, dan jabatan, katanya, penyerang dapat menggunakan AI untuk dengan mudah mengidentifikasi sejumlah besar orang yang memiliki email pribadi yang dibuat untuk mereka.

Pratama memperkirakan pada tahun 2024, serangan ransomware (peretasan perangkat) akan menjadi yang paling umum.

“Evolusi serangan ransomware dengan teknik dan teknik yang canggih, termasuk penggunaan teknologi intelijen dan enkripsi yang kuat,” ujar dosen pasca sarjana di State Intelligence College (STIN).

Oleh karena itu, lanjutnya, serangan APT (ancaman persisten tingkat lanjut) terutama menargetkan sektor-sektor utama, pemerintah, dan perusahaan besar dengan tujuan spionase dan pencurian data sensitif.

Guru Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) PTIK memperkirakan pada tahun 2024 akan terjadi peningkatan serangan berantai (SC).

Meningkatnya serangan terhadap rantai pasokan membahayakan integritas perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan oleh organisasi dan individu.

Pada tahun 2024, kata Pratama, negara-negara akan melakukan operasi siber untuk keuntungan geopolitik.

Faktor yang paling penting termasuk ambisi geopolitik, kebutuhan untuk mengembangkan perekonomian dan bersaing dengan pesaing regional, serta pengumpulan intelijen dan serangan yang kuat, terutama menargetkan mata uang kripto untuk mendukung operasi spionase. (Antara/jpnn)

BACA ARTIKEL LEBIH LANJUT… Bekerja sama dengan BSSN, Peru meluncurkan CSIRT untuk memperkuat keamanan siber.