Wisata Sejarah Kabupaten Ngawi

0

Wisata Sejarah Kabupaten Ngawi

Dalam episode kali ini, Anda kami ajak menikmati wisata sejarah yang ada di Kabupaten Ngawi. Ngawi adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah. Selain memiliki wisata alam yang penuh pesona dan menarik untuk dikunjungi, seperti Waduk Pondok, Air Terjun Srambang, Perkebunan Teh, Perkebunan Karet, Gunung Liliran, dan sebagainya, Ngawi juga memiliki objek wisata sejarah yang layak Anda kunjungi. Museum Trinil dan Benteng Pendem atau Benteng Van Den Bosch, merupakan dua tempat wisata sejarah yang akan membawa Anda, pada suasana jaman purba serta masa-masa penjajahan Belanda.

Mungkin Anda pernah belajar tentang manusia purba ‘Pithecantropus Erectus’ yang ada di pulau Jawa dalam pelajaran sejarah, saat duduk dibangku sekolah. Di museum Trinil, Anda dapat melihat langsung fosil-fosil manusia purba ini. Tidak hanya Pithecantropus Erectus hasil penemuan Eguene Dubois pada tahun 1891 saja yang menjadi koleksi museum ini, ratusan fosil binatang dan ratusan fosil tumbuhan purba, juga menghuni ruang dalam museum ini. Trinil merupakan situs paleoantropologi, yang lebih kecil dari situs Sangiran di Jawa Tengah. Dahulu, Trinil merupakan kawasan lembah Sungai Bengawan Solo, yang menjadi hunian kehidupan purba.

Museum Trinil berada di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, berdiri di atas lahan kurang lebih 3 Hektar. Dalam areal museum juga terdapat beberapa bangunan yang menjadi kantor, pendopo, laboratorium, dan bangunan pendukung lainnya, serta patung gajah purba yang menjadi ikon dari museum ini. Memasuki ruang utama museum, kami disuguhi oleh fosil-fosil manusia, flora, fauna, serta fosil kehidupan purba lainnya, yang memberikan informasi peradaban manusia dan kehidupan saat itu. Rata-rata fosil yang ada di museum ini memiliki umur jutaan tahun, sehingga sangat menarik untuk objek penelitian dan pembelajaran bagi masyarakat, atau wisatawan.

Setelah asyik menikmati fosil-fosil purba, perjalan kami lanjutkan menuju Benteng Pendem atau Benteng Van Den Bosch. Benteng ini berada di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, mulai dibangun pada tahun 1839 dan selesai pada tahun 1845, oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu. Benteng yang dulunya dikenal dengan nama Fort Van Den Bosch ini, dibangun sebagai pertahanan untuk melindungi pemerintahan Hindia Belanda, dari serangan pejuang-pejuang lokal yang ada di Ngawi dan sekitarnya, saat jaman penjajahan. Setelah hampir dua abad lamanya, benteng ini tetap berdiri, meskipun beberapa bangunannya sudah ada yang dimakan usia.

Masyarakat disekitar Benteng Van Den Bosh menyebut benteng ini sebagai Benteng Pendem, karena disekeliling benteng terdapat gundukan tanah, untuk menahan air sungai Bengawan Solo yang meluap. Banyaknya gundukan tanah itu membuat benteng ini terlihat seperti bangunan yang terpendam, sehingga masyarakat disana menyebutnya sebagai Benteng Pendam atau Benteng Pendem, dalam bahasa jawa. Disekeliling benteng dulunya juga terdapat parit sebagai bagian dari pertahanan waktu itu, tapi saat ini parit itu tidak begitu terlihat karena sudah tertutup oleh tanah. Bangunan benteng dibangun dengan konstruksi khas benteng-benteng Belanda, saat masa-masa penjajahan.

Pintu utama benteng masih berdiri kokoh, didalamnya terdapat ratusan bekas ruangan yang digunakan sebagai kamar, tempat senjata, gudang makanan, dan lain sebagainya. Menurut warga yang ada di sekitar, didalam areal benteng terdapat makam salah satu pengikut Pangeran Diponegoro, yang dikubur hidup-hidup karena tidak mempan ditembak. Sudut-sudut bangunan yang tersisa dari Benteng Pendem sangat menarik diabadikan, apalagi jika Anda pecinta dunia fotografi. Bagi Anda yang akan berwisata ke Kabupaten Ngawi, jangan lupa untuk mengagendakan berkunjung ke Museum Trinil dan Benteng Van Den Bosch, menikmati objek wisata bersejarah.