Sumenep Citarasa Madura

0

Dalam episode kali ini Iklan Pos berkunjung ke Pulau Garam, tepatnya di Kabupaten Sumenep, satu dari empat kabupaten yang berada di pulau Madura. Jarak antara Sumenep dan Surabaya adalah 175 Km, bagi Anda yang sudah lama atau belum pernah berkunjung ke Madura, kini untuk menyebrangi selat antara Surabaya-Madura tidak perlu menggunakan kapal feri yang ada di Pelabuhan Perak Surabaya menuju Pelabuhan Kamal yang ada di Bangkalan. Karena kini sudah ada jembatan Suramadu (Surabaya-Madura).

sumenepKalau Kita selama ini mengenal Madura dengan Soto, Sate, Karapan Sapi dan sebagai Pulau Garam, ternyata Madura juga memiliki banyak obyek wisata, budaya, kuliner dan alam yang begitu indah. Mungkin Anda tidak tahu kalau di Kabupaten Sumenep terdapat sebuah Keraton, yaitu Keraton Sumenep. Informasi mengenai keberadaan Keraton Sumenep ini menarik minat Kami untuk mengunjunginya, Bangunan Keraton Sumenep yang masih ada sampai saat ini didirikan pada pertengahan abad ke-18 tepatnya  tahun 1762, walaupun dalam sejarahnya Keraton ini berpindah-pindah tempat sejak dipimpin oleh Arya Wiraraja, Dia adalah Raja pertama yang dilantik pada tanggal 31 Oktober 1269, merupakan seorang pakar penasehat dan pengatur strategi, Dia juga ikut andil dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, menghancurkan tentara Tartar dan mengusirnya dari tanah Jawa.
Menurut Romy salah seorang staf dari Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, Keraton Sumenep ini dibangun atas prakarsa Raja Sumenep Yang ke-31, yaitu Penembahan Sumolo. Keraton ini dibangun oleh seorang arsitek China bernama  Lauw Piango, dengan perpaduan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa. Ketika kami mulai berkeliling di Keraton Sumenep, selintas model-model bangunannya memang mirip dengan keraton-keraton yang ada di Jawa pada umumnya. Didepan keraton terdapat sebuah gerbang, yang juga merupakan pintu utama bagi keluar masuknya tamu-tamu kerajaan, pada saat itu.
sumenep2Gerbang utama menuju keraton tersebut terkenal dengan sebutan Labang Mesem, diambil dari bahasa Madura, yang berarti Pintu Senyum. Dahulu pintu ini dijaga oleh beberapa orang cebol yang ramah, dimana membuat orang-orang yang melintasi pintu ini selalu melempar senyum. Setelah melewati Labang Mesem, kami melanjutkannya ke Pendopo Keraton, bangunannya masih alami, didominasi oleh ukir-ukiran khas Sumenep dan tiang-tiang penyangga yang dihiasi lampu-lampu gantung, terlihat antik dan membuat suasananya seperti tempo dulu.
Diantara Pendopo Keraton dan Istana dimana Raja-raja Sumenep dulunya tinggal ditempat ini, terdapat serambi keraton yang menghubungkannya, dengan nama Mandiyoso, panjangnya sekitar 30 meter. Memasuki ruang utama terdapat beberapa kamar yang dulunya dihuni oleh Raja Sumenep dan keluarga besarnya, disini masih terdapat perabot-perabot kerajaan yang masih alami dan terjaga keasliannya, mulai dari tempat tidur, lemari, kursi, perhiasan, senjata dan
sebagainya. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memasuki ruangan ini, itulah sebabnya kami tidak sempat mengabadikannya dalam bingkai foto, karena pengunjung hanya boleh melihat dari bilik-bilik jendela yang ada di kamar itu. Disebelah timur keraton terdapat sebuah taman, yang disebut dengan Taman Sare, disini terdapat kolam pemandian dan joglo-joglo tempat Raja beristirahat.
Masih satu komplek dengan Keraton Sumenep, terdapat Museum Keraton Sumenep, yang terletak di depan dan disebelah barat Keraton Sumenep. Didalam museum ini terdapat berbagai koleksi benda-benda yang memiliki nilai historis dengan tata kehidupan masyarakat dan Keraton Sumenep pada zaman dahulu. Memasuki areal pertama Museum ini ada beberapa koleksi yang menarik perhatian kami, disini dipajang beberapa gambar, lukisan dan foto Raja-raja dan Bupati Sumenep yang pernah memerintah dan bertahta di Sumenep.
Disini terdapat Al-qur’an raksasa yang ditulis tangan, dengan panjang 4 meter dan lebar 3 meter, serta memiliki berat setengah Ton atau 500 Kg, terdapat juga Kereta Kencana yang merupakan satu-satunya Kereta Keraton yang masih tersisa. Kereta Kencana ini adalah alat transportasi kuno buatan abad ke 18 yang merupakan hadiah dari kerajaan Inggris pada waktu itu, dan merupakan satu-satunya kendaraan yang dipakai oleh Raja, Punggawa dan Bangsawan Keraton saat berkunjung kedaerah-daerah kekuasaannya. Sebelum meninggalkan areal pertama Museum ini kami melihat lambang Kerajaan Sumenep, yang memadukan gambar Naga, Mahkota Kerajaan dan Kuda Terbang.
Memasuki areal Museum yang kedua disini kami banyak menjumpai, guci, gerabah dan keramik-keramik khas China. Ada beberapa Arca, Lingga dan Yoni yang merupakan peninggalan Hindu dan Budha, sebelum masuknya Islam di Madura. Replika rumah kuno khas Sumenep juga terdapat disini beserta perabot-perabotnya yang masih asli. Ada sebuah ruangan yang menyimpan naskah-naskah kuno yang ditulis didaun lontar maupun sudah dalam bentuk buku dan menceritakan perjalanan panjang tentang sejarah Sumenep dan Madura yang tersimpan dalam sebuah lemari. Banyak koleksi senjata-senjata dan baju baju perang yang usianya sudah ratusan tahun dan memiliki keunikan tersendiri.
Setelah melihat koleksi benda-benda yang ada di Museum, kami melanjutkan perjalanan ke Asta Tinggi, Asta Tinggi merupakan tempat pemakaman Raja-raja Sumenep dan kerabatnya. Komplek pemakaman itu terletak di desa Kebun Agung, 3 Kilometer arah barat dari kota Sumenep, karena letaknya yang berada di dataran tinggi, komplek pemakaman itu disebut dengan Asta Tinggi. Menurut prasati yang ada disana, disebutkan bahwa pembangunan komplek pemakaman itu mulai didirikan sejak tahun 1644 Masehi. Bangunan ini terdiri dari satu gapura utama dan gapura dalam yang memiliki corak arsitektur Jawa, China dan Timur Tengah.
Tepat dijantung kota disebelah barat alun-alun kota Sumenep, terdapat sebuah Masjid Agung, yang dulunya dikenal dengan nama Masjid Jamik, dibangun olek seorang Arsitek China mulai tahun 1779 Masehi dan selesai pada tahun 1787 Masehi. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur yang khas, sebagai perpaduan antara budaya Islam, Eropa dan China, Masjid ini juga termasuk sepuluh Masjid tertua di Indonesia dengan gaya arsitektur yang unik.