PESONA KOTA MARMER (Bagian 2)

0

a1Setelah dalam episode Leisure Pesona Kota Marmer bagian satu, kami ajak Anda menikmati pesona serta keindahan Pantai Popoh dan megunjungi sentra-setra kerajinan batu marmer yang ada di Kabupaten Tulungagung, maka untuk episode kali ini, kami akan ajak Anda mengunjungi Bendungan Wonorejo, Pengrajin Batik Tulis khas Tulungagung, serta menyusuri situs-situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di kota Tulungagung.

Menurut informasi yang kami dapatkan, dari hotel dimana kami menginap, di Kabupaten Tulungagung ini, terdapat waduk atau bendungan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, dan merupakan salah satu andalan objek wisata yang ada di Kabupaten ini. Nama bendungan ini adalah Bendungan Wonorejo, tidak lengkap rasanya kalo mengunjungi Tulungagung tanpa mengunjungi bendungan ini. Untuk dapat menikmati keindahan dan pesona yang ditawarkan Bendungan Wonorejo, kami berangkat pagi-pagi sekali, karena menurut informasi, suasana pagi di sekitar objek wisata ini sangat menarik.

Bendungan Wonorejo terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, letaknya sekitar 15 Kilometer arah barat dari pusat Kota Tulungagung, dengan menggunakan sepeda motor, perjalanan kami tempuh selama 30 menit. Jalan menuju objek wisata ini berbukit-bukit, karena secara geografis, daerah ini berada di dataran tinggi, dikanan dan kiri jalan yang kami lalui terlihat pemandangan yang sangat indah sekali, hamparan perbukitan yang menghijau dan sawah-sawah terasiring, dapat kita lihat sampai menuju ke area Bendungan Wonorejo, apalagi ditambah suasana dan udara pagi yang menyegarkan, membuat perjalan kami menyenangkan, walaupun medan yang kami lalui agak berat.a2

Sesampainya disana kami dibuat takjub oleh Bendungan ini, bukan hanya karena ukurannya yang besar, tetapi karena pesona keindahan alam yang ada disekitarnya begitu indah dan mengesankan. Sejak dibangun pada tahun 1992 dan diresmikan pada tahun 2001, selain memiliki fungsi penting sebagai salah satu pusat pembangkit tenaga listrik dan sumber air minum untuk provinsi Jawa Timur dan sarana pencegah banjir di Tulungagung, bendungan ini juga menjadi objek wisata andalan Kota Marmer yang memiliki pesona luar biasa, sehingga menarik banyak wisatawan setiap tahunnya untuk berkunjung ketempat ini.

Bagi Anda yang mau berekreasi di Bendungan Wonorejo, tidak usah khawatir dengan fasilitas dan sarana prasarana yang ditawarkan dari tempat ini, mulai dari resort, restoran, sarana olah raga air, areal pemancingan, taman, home stay, gazebo, tempat pementasan seni dan lain sebagainya, tersedia disini bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Untuk melepas penat kami mencoba beberapa sarana yang ada di tempat ini, sebelum melanjutkan kelokasi objek wisata selanjutnya yang ingin kami kunjungi, salah satunya mengelilingi waduk atau bendungan dengan menggunakan speed boad, menikmati pemandangan di sekitar bendungan yang begitu indah dan mempesona.

Setelah asyik menikmati pesona dan keindahan Bendungan Wonorejo, perjalanan kami lanjutkan menuju sentra batik tulis yang ada di Kabupaten Tulungagung. Batik bagi masyarakat Tulungagung merupakan tradisi yang mempunyai catatan panjang dalam sejarahnya, batik yang berasal dari kerajaan Majapahit masuk ke Tulungagung, awalnya merupakan karya seni tradisional yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah industri moderen oleh masyarakat Tulungagung. Ciri khas dari batik Tulungagung adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Menurut Bapak Suyadi, Kabid Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Tulungagung, banyak sekali pengrajin dan sentra-sentra batik yang berada di Kabupaten Tulungagung, ada beberapa merek batik Tulungagung yang sudah dikenal secara nasional, beberapa diantaranya adalah batik Gajah Mada, Barong Gung, Satrio Manah, Makmoer dan lain sebagainya. Berdasarkan informasi yang kami dapat, ahirnya kami memilih untuk mengunjungi sentra Batik Gajah Mada, yang terletak di desa Mojosari, Kecamatan Kauman. Sentra batik ini terletak tidak jauh dari pusat kota, jarak yang kami tempuh hanya sekitar 10 menit untuk menuju tempat ini.

Batik Gajah Mada didirikan pada tahun 1978, awalnya merupakan usaha kerajinan batik, yang hanya memproduksi batik tulis dan cap hanya untuk kain panjang atau Jarik. Sejak tahun 1988 Batik Gajah Mada mulai memproduksi batik tulis dan cap maupun batik moderen, untuk bahan pakaian. Berbagai ragam produk telah dikeluarkan sesuai dengan permintaan dan memenuhi kebutuhan pasar, baik dari tingkat lokal maupun nasional, beberapa diantaranya pakaian seragam sekolah, seragam instansi atau perusahaan, hal ini merupakan suatu prestasi dan pencapaian yang membanggakan, ujar Bapak atau Ibu Danu Mulya pemilik perusahaan ini.

Dari sentra Batik Gajah Mada ini ahirnya perjalan kami lanjutkan untuk mengunjungi situs-situs atau candi-candi cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit yang tersebar di Tulungagung. Situs-situs Majapahit yang berada di Tulungagung banyak yang memanfaatkan areal berbukit, fenomena tersebut tampaknya berkaitan dengan latar belakang politis dari komunitas kuno para petapa yang menempatkan diri sebagai bagian lain dari penguasa Majapahit di pusat kerajaan. Letak situs didasari oleh anggapan bahwa lokasinya sangat baik untuk menyepi, serta cocok dengan pandangan kosmologis yang tercermin dari letaknya yang berada di ketinggian.

Banyak sekali candi-candi yang tersebar di daerah Tulungagung, beberapa diantaranya adalah candi Boyolangu, Sanggrahan, Dadi, Ampel, Mirigambar, Penampihan dan lain sebagainya. Berbekal informasi yang kami dapat dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Tulungagung, ahirnya kami mengunjungi beberapa candi tersebut, salah satunya adalah candi Sanggrahan yang merupakan situs candi terbesar. Candi ini berada pada pemukiman yang subur dan terdiri atas tiga bangunan utama, yang masing-masing sudah tidak utuh lagi, secara administratif situs masuk dalam lingkungan Dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu.

Bangunan utama dari candi ini menggunakan batuan andesit dengan isian batu bata, bangunan ini terdiri atas empat tingkat yang masing-masing berdenah bujur sangkar dengan arah menghadap ke barat, bangunan kecil yang berada disebelah timur bangunan induk hanya tersisa bagian bawahnya saja. Di tempat ini dulunya terdapat lima buah arca Budha, yang masing-masing mempunyai posisi mudra (posisi tangan) yang berbeda, demi keamanan arca tersebut disimpan dirumah juru pelihara. Setelah menikmati pesona candi Sanggrahan, ahirnya kami bergegas untuk kembali ke Surabaya.