MARRAKESH

0

Oasis Gerbang Sahara

Sepanjang sejarahnya, Marrakesh dikenal sebagai ‘pintu gerbang’ menuju gurun pasir. Hamparan gurun pasir yang luas dapat disaksikan dari jendela pesawat terbang saat hendak mendarat di bandara Menara, Marrakesh. Hingga saat ini Marrakesh dikenal sebagai salah satu dari ‘four imperial cities of Marroco’ disamping Meknes, Fez dan Rabat. Agung Basuki dari www.TravelHemat.com dan www.TravelHematShop.com menceritakan pengalamannya berkunjung ke Marrakesh.

a1

Pemandangan Gurun Sahara, sebuah gurun pasir terluas di benua Afrika (atau mungkin juga di dunia) —masih dapat dinikmati saat menuju kota Marrakesh yang hanya berjarak 6 kilometer dari bandara Menara. Deretan pohon palem di tengah hamparan gurun pasir memberikan kesejukan tersendiri, ditambah dengan sepoi angin di tengah suasana terik layaknya sebuah oasis di tengah padang pasir. Sementara di kejauhan, sebuah keajaiban alam terlihat sangat mengagumkan tatkala melihat pegunungan Atlas yang pada bagian puncaknya ditutupi salju abadi berdiri menjulang dengan anggunnya. Pemandangan yang terlihat sangat kontras antara padang pasir dan gunung salju.

Kota yang dulunya merupakan tempat asal mula bangsa Moorish ini – yang dari namanya kemudian menjadi nama kota Moorrakech (atau yang dikenal saat ini sebagai Marrakesh) sekaligus juga menjadi asal muasal nama negara yang dikenal dengan sebutan: Marroko—terbagi atas dua bagian, kota tua dan kota moderen. Kota moderen Marrakesh yang terletak di luar ‘tembok tanah liat’ dipenuhi oleh bangunan bergaya modern dan jalanan beraspal. Sejumlah hotel berbintang milik perusahaan internasional banyak didirikan di sana.

Sementara kota tua yang dikenal dengan sebutan Medina, berpusat pada sebuah lapangan luas (kalau di Indonesia dikenal sebagai alun-alun) bernama Djemaa el Fna Square atau dapat diartikan sebagai ‘lapangan kematian’. Karena dulunya sering digunakan sebagai ajang eksekusi terhadap para penjahat yang dijatuhi hukuman mati. Namun saat ini keberadaan Djemaa el Fna jauh dari kesan menyeramkan. Bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke tempat ini, terutama bagi para pelancong Eropa dan Amerika yang terbiasa dengan situasi serba tertib dan teratur, ditanggung bakal pusing tujuh keliling dengan situasi serba semrawut yang terhampar pada sebuah lapangan luas. Beragam stand pedagang kaki lima (yang dalam bahasa lokal disebut dengan souks) tersebar di mana-mana hingga hanya menyisakan jalan yang sempit dan berkelok-kelok.

Pengunjung juga harus siap sedia untuk tersesat di tengah-tengah banyaknya ‘jalan tikus’ yang ada di sana. Banyak yang bilang, seseorang dianggap belum ke Marrakesh apabila belum pernah tersesat di Djemaa el Fna. Karena itu, sebelum memasuki areal Djemaa el Fna, banyak dijumpai penduduk lokal yang menawarkan diri menjadi pemandu bagi para turis yang ingin berkunjung ke tempat ini.

Landmark lain yang menjadi icon terpenting dari kota ini adalah Masjid Koutoubia yang terletak diantara jalanan sempit ini sekaligus dikenal sebagai ‘masjid pasar buku’ lantaran di daerah sekitarnya banyak dipenuhi penjual buku bekas yang menggelar dagangannya di jalan-jalan. Masjid yang terbuat dari susunan bata merah ini dibangun pertama kali pada tahun 1147, namun tak lama kemudian dirobohkan karena ternyata letaknya tidak sesuai dengan arah kiblat sebelum dibangun kembali pada tahun 1199. Dengan disangga oleh 112 pilar di dalamnya, masjid tertua di Marrakesh ini sanggup menampung lebih dari dua ribu orang sekaligus, sebuah jumlah yang sangat besar untuk sebuah bangunan yang dibangun pada masa itu. Usia podium pada masjid ini diperkirakan telah mencapai 800 tahun lebih tanpa pernah mendapat sentuhan restorasi.

Menara Masjid Koutoubia adalah bangunan tertinggi yang ada di Marrakesh. Dengan ketinggian 69 meter, menara ini memiliki 6 ruangan yang tersusun ke atas yang kesemuanya dihubungkan dengan anak tangga yang terbuat dari batu bata. Area di sekitar Masjid Koutoubia merupakan tempat ‘hang-out’ favorit di saat matahari terbenam. Cafe dan restoran di daerah tersebut yang memadukan berbagai unsur budaya berbagai negara senantiasa dipenuhi oleh pengunjung, baik itu penduduk lokal maupun turis asing.

Marrakesh memang adalah sebuah sebuah museum ‘hidup’ yang patut dinikmati, di mana kekayaan budaya bangsa Moorish yang menjadi cikal-bakal bangsa ini tetap dipertahankan dan terpelihara dengan baik hingga saat ini meski sempat harus bersaing dengan pengaruh bangsa Prancis, Spanyol maupun Jerman yang secara bergantian pernah menduduki wilayah ini berpuluh-puluh tahun lamanya.