Ex-East Berlin Today, Classic vs. Futuristic

0

1-1

Di masa komunisme masih berkuasa dulu, ketika kota Berlin masih terbagi menjadi dua, bagian barat yang bernapaskan kapitalisme dengan berbagai bangunan megah nan moderen dan bagian timur yang bernuansa kelabu tanpa tersentuh moderenisasi, membuat pemandangan kota yang pernah dipisahkan oleh sebuah tembok sepanjang hampir 150 km selama hampir 40 tahun itu menjadi sangat kontras. Kami Ingin menceritakan pengalamannya berkunjung ke kota ini.

Banyak cerita dramatis sekaligus memilukan, betapa orang bersedia melakukan apa saja untuk merubah nasibnya demi kehidupan yang lebih baik, hal ini terangkum dengan lugas di sebuah museum khusus bernama Checkpoint Charlie di Friedrichstrasse. Dan kini, ketika keduanya kembali menyatu seiring jatuhnya rezim komunisme di Eropa pada awal 1990-an yang ditandai dengan pembongkaran Tembok Berlin yang fenomenal itu, kota berpenduduk 3,5 juta jiwa ini berbenah habis-habisan, dengan titik berat utama di bagian sisi timurnya.

Terbukanya ‘pintu gerbang’ eks-Berlin Timur yang dimulai dari Brandenburg Tor hingga ke daerah Mitte dan Kreuzberg membuat tersedianya lahan luas yang siap untuk pembangunan. Hingga saat ini, pembangunan sarana dan prasarana di lokasi tersebut masih terus berlangsung, dengan nuansa yang sangat jauh berbeda dengan wajah eks-Berlin Timur sebelum tahun 1990-an.

Jika Anda sedang berdiri di bawah Brandenburg Tor, maka Anda akan melihat jalanan luas dan panjang yang memberikan kesan lega dan asri, lantaran ditanami berbagai jenis pepohonan dengan aspal yang mulus terhampar di depan monumen saksi sejarah kekejaman rezim komunis ini. Inilah Unter den Linden, Avenue Champ Elysees-nya eks Berlin Timur yang di kiri-kanannya sarat dengan berbagai bangunan bersejarah bergaya Classic-Romanesque berdampingan dengan bangunan-bangunan ultra moderen yang sebagian besar bermaterialkan panel-panel kaca hingga memberikan kesan futuristik, hangat dan canggih.

Pembangunan berbagai fasilitas yang mengusung kesan modern memang digeber habis di bagian timur ibukota Jerman ini. Hal ini pula yang kemudian menarik perhatian berbagai perusahaan multinasional untuk berlomba-lomba membuka kantor perwakilannya di daerah ini. Sebut saja perusahaan raksasa dunia sekelas Sony dari Jepang, Samsung dari Korea, Alcatel, Accor Group dan Peugeot dari Prancis, Swissbell Hotel, maupun Singapore Airlines memilih untuk turut meramaikan daerah ini. Belum lagi pusat perbelanjaan dan beraneka toko fashion papan atas serta berbagai café, pub dan resto internasional yang juga tak mau kalah berebutan membuka showroom dan outletnya terutama di daerah Alexanderplatz, Potsdamerplatz dan Friedrichstrasse.

Fasilitas umum yang pembangunannya dimulai setelah reunifikasi Berlin saat inipun telah memperlihatkan hasilnya. Salah satu yang terheboh adalah dioperasikannya Berlin Hauptbahnhof (Berlin Central Station) yang dibangun dengan investasi senilai U$ 850 juta. Stasiun yang diklaim sebagai yang termegah, terluas sekaligus termodern di Eropa dan membutuhkan waktu selama 12 tahun untuk pembangunannya ini, terletak sangat strategis karena menghubungkan berbagai simbol utama kota Berlin, seperti gedung Reichstag (Gedung Parlemen), Bundeskanzleramt (kantor Kanselir Jerman) dan Brandenburg Tor, sehingga untuk itu mega proyek ini disebut-sebut sebagai lambang pemersatu Barat dan Timur.

Keberadaan stasiun kereta api yang konon sanggup menampung 300 ribu penumpang setiap harinya ini, juga menghubungkan berbagai kota yang terletak di bagian timur dan selatan Jerman, dengan kota-kota yang letaknya di bagian barat dan utara, bahkan dengan berbagai kota besar lain yang terletak di Eropa Timur maupun Eropa Barat.

Tak cuma fasilitas umum di eks-Berlin timur saja yang mengalami peremajaan dengan sentuhan futuristik modern, bangunan pemerintah yang rata-rata bergaya klasik pun tak luput dari sentuhan modernisasi. Salah satu yang menjadi landmark kemegahan perpaduan arsitektur klasik dan futuristik kota Berlin terlihat nyata pada gedung Reichstag, tempat di mana para anggota parlemen Jerman bermarkas.

Gedung ‘angker’ yang pernah dijadikan pusat pemerintahan diktator Hitler saat berkuasa di era Perang Dunia II ini, pada tahun 1999 yang lalu telah melewati masa restorasi yang panjang, di mana hasil akhirnya berupa sebuah kubah raksasa terbuat dari kaca tebal terletak di bagian atas gedung dengan tetap mempertahankan keberadaan pilar-pilar raksasa dan berbagai ornament bergaya Romanesque, di bagian depannya plus sebuah komplek bangunan beraksitektur gaya post-modern minimalis yang tampak megah dan indah di bagian belakangnya. Kubah kaca tersebut tampak sangat indah ketika menjelang malam, saat cahaya lampu aneka warna berkekuatan ribuan watt menyinari sudut-sudutnya.

Modernisasi yang dilakukan di gedung yang pernah disakralkan dari kunjungan masyarakat awam ini, sekaligus juga membuka kesempatan bagi para turis domestik dan mancanegara untuk bisa mengunjunginya, seperti layaknya mendatangi sebuah museum yang dibuka untuk umum, sehingga tidak mengherankan apabila Reichstag sekarang malah menjadi salah satu tujuan utama para turis saat berkunjung ke Berlin.

1-3