Stimulus Ekonomi Alami ala Lebaran




Siklus tahunan, menjelang lebaran semua harga barang dan jasa merambat naik. Mudik, Pergerakan manusia menjelang lebaran ini hanya dapat disaingi jika terjadi kepanikan karena kerusuhan atau peperangan. Begitu juga kepadatan jalan raya, terminal, bandara dan tidak terkecuali pasar-pasar dan supermarket. Semua berlomba berbelanja semua yang bisa dikonsumsi. Kenaikan harga barang dan jasa, atau inflasi jelas meningkat dengan cepat. Padahal inflasi biasanya cenderung ditekan, kecuali pada Hari Raya, malah terkesan cenderung didukung. Pemerintah terlihat jelas mengakomodasi inflasi budaya ini dengan cara menambah uang beredar (money supply) serta penambahan upah atau gaji yang disebut THR (Tunjangan Hari Raya). Dilain pihak, pada saat krisis ekonomi fenomena ini malah diharapkan, agar roda perekonomian tetap berputar.

Dikala negara-negara maju bingung memberikan stimulus terhadap perekonomiannya, sampai-sampai semaju Amerika juga mempunyai program BLT (Bantuan Langsung Tunai) agar masyarakatnya tetap bisa mengkonsumsi. Di Indonesia stimulus ini berlangsung secara alami setiap perayaan Hari Raya. Konsumsi meningkat, perputaran uang melaju kencang terjadi begitu saja tanpa adanya komando dari pemerintah melalui program stimulus, yang belum tentu terlaksana sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah. Dengan hitungan kasar, jika terdapat 25 juta pemudik menghabiskan 1 juta untuk berlebaran di kampung halaman, terbilang 25 trilun uang berputar, tanpa campur tangan pemerintah secara langsung. Belum lagi kepulangan buruh migran yang cukup banyak jumlahnya, ataupun hanya aliran transfer uang ke kampung halaman.  Seorang pakar pernah mengatakan, musim lebaran disamakan dengan liburan musim panas dan natal sekaligus, dari sisi pergerakan manusia dan perputaran uang.

Benar-benar stimulus ekonomi alami yang luar biasa, tanpa perlu program dan penetapan anggaran dari pemerintah dan DPR seperti stimulus fiskal dan stimulus infrastruktur, yang biasanya penyerapannya amat minim. Sedikit sekali peran pemerintah pada stimulus alami ini, paling hanya menambah uang beredar dan himbauan-himbauan saja. Malahan, di saat pergerakan uang dan manusia begitu cepat, acara sidak oleh menteri malah terkesan acara seremonial yang malah bikin repot.

Fenomena lebaran membantu uang berputar lebih cepat, mendorong uang lebih merata ke daerah daripada hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tanpa bantuan pemerintah, tanpa ada birokrasi untuk penerapan program, semua terjadi dengan sendirinya.

Hanya saja, budaya konsumi dadakan ini kurang dimanfaatkan oleh pemerintah termasuk pemerintah daerah, entah dengan memberdayakan potensi daerah agar produknya terkonsumsi. Kebanyakan yang dikonsumsi malah barang impor seperti mobil baru, handphone baru demi menjaga citra dan status sosial sewaktu mengunjungi kampung halaman. Pergerakan manusia dan uang yang luar biasa ini terlalu besar jika yang diincar hanya karcis peron terminal atau karcis parkir tempat hiburan.

Budaya konsumerisme sesaat ini juga memberikan dampak setelahnya, masyarakat menggunakan apapun untuk bisa berlebaran, memakai uang tabungan ataupun berhutang. Setelah musim lebaran dan menghabiskan uang untuk membeli ini-itu, bulan-bulan berikutnya adalah musim membayar hutang dan pengetatan ikat pinggang. Tengok saja data dari perum pegadaian, tempat penyimpan barang gadai penuh dan penyediaan uang tunai meningkat drastis.

Stimulus memang diperlukan, tetapi inflasi juga harus dikendalikan. Dari data historis, deflasi setelah lebaran selalu lebih kecil dibanding inflasi menjelang lebaran. Kenaikan harga adalah wajar jika semua orang membeli, tetapi apakah Lebaran akan dijadikan kambing hitam jika inflasi menembus dua digit?. Oleh : Anton Hardiawan




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*