Sarajevo Paduan Berbagai Budaya




a1Saat terjadi perang etnis selama 3,5 tahun yang memakan begitu banyak korban jiwa, bangunan-bangunan simbol keagamaan samasekali tidak mengalami kerusakan dan tetap berdiri kokoh sampai hari ini.

Tidak perlu menjadi seorang pencinta alam sejati untuk bisa mengagumi kemolekan alam Bosnia Herzegovina yang unik dan eksotis. Meski nama di atas mengingatkan kita pada peperangan dan pembantaian antar etnis yang memporak-porandakan bekas negara bagian Yugoslavia ini, yang terletak di bagian timur benua Eropa, sekitar tahun 1991-1995. Pada kenyataannya banyak orang, terutama eks tim relawan multinasional yang pernah bertugas di tempat itu, memutuskan untuk kembali berkunjung ke negeri ini lagi, dan lagi. Agung Basuki (pemilik TravelHemat.com dan TravelHematShop.com) membagikan kenangannya tentang kota eksotis ini.

a2Tiada tempat di belahan dunia ini yang bisa dibandingkan dengan kecantikan alami Bosnia Herzegovina. Di negeri yang dikaruniai keindahan alam yang masih perawan, berupa gunung-gunung batu nan tinggi menjulang, belum tersentuh teknologi modernisasi seperti yang banyak dilakukan di Swiss. Jalanan yang berkelok-kelok turun-naik di gugusan perbukitan dengan perkebunan di kiri-kanannya, sungai berarus deras namun berair jernih, semuanya menawarkan tantangan bagi mereka yang suka olahraga ‘keras’, seperti white water rafting, mountain climbing maupun paragliding, dalam nuansa yang apa adanya dan belum terkomersialisasi.

Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina, juga laksana ‘mutiara hilang yang baru ditemukan kembali’. Terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh barisan perbukitan dan jajaran pegunungan Alpen Dinaric, membuat kota ini bakal menjadi sasaran ‘empuk’ bagi para turis berkantong tebal, pengusaha real estate, tour operator kelas satu dan juga para pemilik chain-hotel ternama di dunia. Menurut ramalan saya sih, tidak sampai 10 tahun dari sekarang, wajah kota ini pasti bakal berubah drastis di mana sentuhan moderenisasi dan hawa komersialisasi akan menjadikan kota ini kehilangan pesona alaminya.

Termasuk dalam wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman asal Turki, Sarajevo didirikan pada abad ke-15 sekaligus membawa pengaruh Islam ke kota berpenduduk 400-ribuan jiwa ini.  Ketika daerah ini berada dalam kekuasaan kekaisaran Hungaria di abad ke-18 hingga 19, pengaruh Austro-Hungarian yang berlatar belakang Katholik, memperkaya khasanah budayanya. Dan setelah itu, pengaruh rezim sosialis yang berkuasa selama 50 tahun membuat kota ini semakin bercorak, yang ditandai dengan berbaurnya gaya bangunan yang berbeda dan kadang bahkan terlihat amat kontras satu sama lain, bersandingan di seluruh pelosok kota.

Pernah dijuluki Jerusalem-nya Eropa lantaran kentalnya nuansa Yahudi yang sempat mendominasi sebagian gaya bangunan di tempat ini, Sarajevo juga merupakan kota di mana berbagai bangunan simbol keagamaan mulai dari Gereja Katolik, Masjid, Synagoge dan Gereja kaum Orthodox  terletak dalam jarak yang dapat ditempuh dengan jalan kaki antara satu dan lainnya. Sungguh sebuah pemandangan langka yang mungkin tidak dapat ditemukan di negara-negara Eropa lain. Ketika kita berjalan di pusat kota yang terletak di daerah Ferhadija, kita bisa melewati gedung gereja Orthodox Serbia, Kathedral bergaya majestik, sekaligus Masjid Begova yang bergaya khas Turkey.

Hal ini sebenarnya menunjukkan betapa toleransi antar umat beragamanya sungguh luar biasa. Karena itu sangatlah mengherankan ketika negara ini terkoyak oleh konflik antar etnis yang dilatar belakangi unsur agama. Namun demikian, yang lebih mengagumkan lagi, saat terjadi perang etnis selama 3,5 tahun yang memakan begitu banyak korban jiwa tersebut, bangunan-bangunan simbol keagamaan tadi sama tidak mengalami kerusakan dan tetap berdiri kokoh sampai hari ini. Sepertinya, semua pihak yang bertikai saat itu seakan ‘bersepakat’ untuk tidak saling melakukan perusakan terhadap bangunan-bangunan yang dianggap suci tersebut.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*