Ramadhan bersama Muslim Indonesia di Belanda




“Silahkan mas, dicicipi gado-gadonya,” sapa seorang ibu.  “Kalo mau yang lain juga ada, bakso, soto atau pecel, jarang-jarang lho di Belanda ada makanan enak seperti ini” lanjutnya.
19Momen berharga ini biasanya terdapat dalam acara buka puasa bersama di kota Amsterdam yang diselenggarakan oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di Belanda. Dengan identitas Indonesia yang mereka miliki, komunitas tersebut berusaha untuk menghadirkan “Indonesia” yang mereka kenal. Baik itu dalam interaksi sehari-hari, makanan, acara keagamaan dan lain sebagainya. Muhammad As’ad, Alumni Universitas Leiden, Belanda yang sekaligus Staf Pondok Pesantren Ummul Ulum Buduran Sidoarjo, menceritakan pengalamannya saat bulan Ramadhan di negara Kincir Angin.
Singkat kata, setelah berkenalan dengan beberapa anggota, saya semakin akrab dengan anggota komunitas tersebut. Dalam pengamatan saya, anggota komunitas ini berumur antara 30-70 tahun. Mereka adalah orang-orang yang telah tinggal di Belanda sejak tahun 80 sampai 90-an, bahkan ada beberapa yang telah tinggal sejak tahun 1970-an. Setelah tinggal sekian tahun lamanya dan berkeluarga disini (diantara mereka pun ada yang menikah dengan orang Belanda), mereka mempunyai keturunan yang tentu saja membutuhkan pendidikan, dan salah satunya adalah pendidikan agama. Untuk kepentingan tersebut komunitas ini didirikan.
Komunitas muslim Indonesia di Belanda terdiri dari banyak anggota. Sebagian peserta adalah keturunan Indonesia yang lahir di Belanda. Sebagai kosekuensi logis, mereka mendapatkan pendidikan di Belanda, menggunakan bahasa Belanda dan tata cara bergaul ala masyarakat Belanda. Bahasa Indonesia sangat jarang digunakan, kalaupun digunakan hanya beberapa keluarga yang menerapkannya. Ketika bertegur sapa dengan genera muda disana, ada masalah bahasa yang membuat komunkasi sulit. Selain masalah bahasa, juga budaya mereka yang dapat dikatakan lebih Belanda daripada Indonesia. Oleh karenanya ketika membaur bersama generasi muda seumuran 12 sampai 20 tahun. Komunikasi yang saya gunakan adalah bahasa Inggris, namun sesekali juga menggunakan bahasa Indonesia dengan tujuan mengenalkan mereka dengan Indonesia sebagai tempat dimana keluarga mereka berasal. Ketika berkumpul bersama orang tua kadang mereka membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Belanda jika dianggap mereka kesulitan memahami Indonesia yang kami gunakan.
Yang cukup unik adalah acara rutin di bulan ramadhan seperti pondok ramadhan. Format acara dibentuk seperti acara di Indonesia. Dengan membentuk panggung kecil di depan, disertai sound system yang memadai untuk satu ruangan. Acara diawali dengan pembukaan yang dibawakan dalam dua bahasa, Indonesia dan Belanda. Ini dilakukan karena ada beberapa anggota yang tidak faham bahasa Indonesia. Setelah beberapa acara serimonial berupa sambutan dan lainnya, acara ditutup dengan kesenian Islam berupa Qasidah dan lagu Islami berbahasa Indonesia yang dibawakan oleh anak-anak berumur 4-8 tahun. Anak-anak tersebut adalah keturunan anggota komunitas yang mendapat bimbingan tentang Islam berupa baca al-Qur’an dan shalat yang diadakan setiap minggu oleh komunitas tersebut.
Bagi para orang tua, lagu-lagu Islami berbahasa Indonesia yang dilantunkan menjadi semacam katarsis yang mengingatkan mereka pada masa kecil di Indonesia. Dengan berbekal hapalan karena sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia yang fasih, para anak-anak tersebut menyelesaikan dua lagu dengan keceriaan. Dan seperti biasa, setelah semua rangkaian acara selesai. Seluruh anggota mendapatkan sajian makanan yang semuanya adalah kuliner khas Indonesia.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*