Pesona Romawi Dalam Nuansa Gothic (Bagian 1)




aKarena menyadari sepenuhnya bahwa pendapatan terbesarnya berasal dari sektor turisme, pada umumnya penduduk Siena bersikap terbuka dan ramah terhadap para turis yang berkunjung ke sana.

Jika ada yang penasaran ingin tahu seperti apakah wajah kota Pompeii, yang hancur lebur gara-gara letusan Gunung Visulvius beberapa abad lalu di zaman medieval, maka Siena dapat dikatakan sebagai saudara kembarnya, begitu tutur Marco, local tour guide dari Tuscany Tourism Board yang memandu Agung Basuki (pemilik TravelHemat.com dan TourLeaderGuide.com) saat berkunjung ke Siena beberapa waktu lalu. Konon, begitu banyak kemiripan antara Pompeii dan Siena, termasuk dalam hal tata kota dan bentuk bangunannya. Untungnya, nasib Siena jauh lebih mujur daripada Pompeii, sehingga pesona kecantikannya dapat dinikmati terus sampai hari ini.

Berabad-abad lalu, Siena merupakan sebuah daerah miskin yang kurang menarik bagi para pebisnis. Sarana transportasi umumnya tergolong parah. Sebagai gambaran, pada sekitar awal abad ke-18, dibutuhkan waktu sekitar dua hari perjalanan dari Siena menuju Florence yang berjarak hanya 70 kilometer lantaran keterbatasan sarana jalan raya dan juga sulitnya transportasi di daerah.Keadaan berubah saat Badan Industri Turisme Italia (Italian Tourism Board) menjadikan kota yang masih ‘perawan’ lantaran keterkucilannya ini sebagai tujuan wisata bagi pelancong manca negara sekitar 50 tahun lalu.

Turisme telah membawa darah kehidupan baru bagi kota yang tepat berada di jantung propinsi Tuscani ini. Karena menyadari sepenuhnya bahwa pendapatan terbesarnya berasal dari sektor turisme, pada umumnya penduduk Siena bersikap terbuka dan ramah terhadap para turis yang berkunjung ke sana. Seperti yang saya alami saat makan malam pada sebuah restoran di daerah Il Campo, alun-alun kota Siena. Saya mendengar seorang pelayan salah satu restoran berteriak dengan suara lantang di depan pintu restoran, berpromosi mengundang orang-orang yang sedang hilir mudik memilih-milih tempat bersantap agar memilih restorannya.

‘Let them keep coming. It’s good for business’, begitu juga yang dikatakan Marco. ‘Kami mengerti betul betapa besar peran para turis bagi penghidupan kami. The more they spend, the more we get happy’. The Campo memang bukan satu-satunya daerah yang menarik para wisatawan berkunjung ke Siena. Palazzo Publico, yang letaknya tak jauh dari The Campo area misalnya, bangunan warna merah bata bergaya khas Romawi kuno dengan menara lonceng setinggi 100 meteran ini, merupakan gedung pusat pemerintahan dewan kota Siena semenjak abad ke 13. Sesuai namanya, Palazzo Publico terbuka untuk umum, meski hanya pada beberapa daerah tertentu saja yang bertanda tulisan ‘museo civico’, yang secara harafiah bisa diartikan sebagai tempat untuk umum.

Di balik tembok yang mengitari bangunan didominasi bentuk persegi empat itu, terdapat banyak lukisan yang sengaja dibuat di dinding bangunan, yang lagi-lagi menurut Marco, merupakan salah satu fresco (lukisan dinding) yang terindah di Italia. Pada saat berkunjung ke Palazzo Publico, saya merasa beruntung karena pada saat itu secara kebetulan jalan menuju Torre Della Mangia, menara lonceng Palazzo Publico sedang dibuka untuk umum untuk beberapa saat. Hal ini sangat jarang terjadi mengingat usia bangunan yang sudah cukup renta. Maka, tanpa berpikir dua kali, saya segera mengiyakan tawaran untuk menaiki puncak menara lonceng tersebut.

Perasaan beruntung tadi harus saya tebus dengan perjalanan susah payah mendaki ke puncak menara lonceng, yang terbuat dari susunan bebatuan berukuran besar-besar. Selama kurang lebih 20 menit mendaki tangga batu, akhirnya tiba juga saya di puncak Torre Della Mangia. Keringat yang membasahi sekujur tubuh berikut rasa lelah di kedua kaki saya seakan terbayar tuntas, begitu menyaksikan keindahan pemandangan kota Siena dari atas.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*