Perdagangan Bebas dan Pengangguran




AFTASerbuan produk China membuat kalang kabut banyak pihak, usulan untuk menunda atau meninjau ulang sering diperdebatkan. Dikhawatirkan dampak negatif perdagangan bebas tersebut berakibat tumbangnya industri dalam negeri, yang berakibat lebih parah lagi yaitu pengangguran.

1 Januari 2010, selain awal tahun baru juga saat dimulainya perdagangan bebas China-ASEAN. Negara ASEAN sudah sepakat berdagang dengan China secara bebas, apakah efek dari perdagangan bebas ini?
Namanya perjanjian, tidak ada yang memaksa, para pihak berjanji tentang suatu hal. Dan janji itu harus disepakati bersama. Jika tidak mau ikut berjanji, tak apa juga. Dengan resiko tidak exist dalam pergaulan dengan para pihak yang ikut dalam perjanjian.
FTA ASEAN-China (Free Trade Agreement) adalah kesepakatan antara ASEAN dan China terkait dengan perdagangan bebas. FTA ini ditujukan untuk kerjasama, yang saling menguntungkan diantara negara pesertanya. Kesepakatan ini mengatur 2.500 pos tarif produk yang akan diberlakukan di pasar bebas.
FTA dibentuk dengan tujuan untuk mengurangi dan menghilangkan hambatan (barrier) dalam perdagangan internasional. Selain itu FTA juga bertujuan untuk memberikan kepastian ekonomi yang lebih besar, transparansi, dan mengurangi biaya yang terkait dengan perdagangan international. Juga untuk meningkatkan investasi di antara negara negara peserta FTA.
Serbuan produk China membuat kalang kabut banyak pihak, usulan untuk menunda atau meninjau ulang sering diperdebatkan. Dikhawatirkan dampak negatif perdagangan bebas tersebut berakibat tumbangnya industri dalam negeri, yang berakibat lebih parah lagi yaitu pengangguran.
Negara kawasan ASEAN tampak tidak ragu menerapkan perdagangan bebas dengan China, tidak seperti Indonesia, kelihatan maju mundur untuk penerapannya.
Sebenarnya apa yang terjadi jika perjanjian itu diterapkan penuh?
Jika perjanjian diterapkan, China boleh melanda ASEAN dengan barang dagangannya dan sebaliknya. Indonesia juga boleh melanda China dan ASEAN.
Kita lihat positifnya dulu, dengan perjanjian ini, diperkirakan ekspor Indonesia ke China, Malaysia, Thailand akan naik, tetapi ke Singapura akan turun karena kita dapat langsung mengekspor tanpa harus melalui Singapura lagi. Pasar China yang sangat luas juga menjadi potensi yang luar biasa.
Sekarang sisi negatifnya, beberapa sektor seperti industri produk kulit, industri metal, dan industri pakaian jadi akan terpukul. Padahal sektor ini menyerap banyak sekali tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja tetap besar, jika tidak terserap di dalam negeri, permintaan tenaga kerja juga sangat besar di luar negeri.
Dalam era globalisasi ini, hambatan atau barrier mulai dihilangkan, termasuk hambatan pasokan tenaga kerja. Enam juta tenaga kerja Indonesia di luar negeri kemungkinan akan bertambah dengan cepat. Dan lagi, arus balik remitansi dari buruh migran juga telah menembus angka 100 triliun per tahun, cukup untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi daerah asal.
Dari uraian di atas terlihat bahwa secara keseluruhan Indonesia lebih diuntungkan bila mengikuti perjanjian perdagangan AFTA dan China-AFTA. Memang ada sektor yang tidak dapat bertahan, dan dapat menciptakan pengangguran baru. Tetapi secara keseluruhan, Indonesia akan lebih terpacu produktifitasnya dan lebih berani beradu kualitas dan harga.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*