Iie Hadinata

0

Jangan Tunda Pekerjaan dan Segera Realisasikan Ide

 

Muda dan dinamis. Kesan itulah yang muncul dari sosok Iie Hadinata, Pemilik Rumah Plastik saat ditemui Iklan Pos di kantornya, Sabtu (16/7). Tanpa canggung, dia membantu karyawannya menata tumpukan plastik yang baru diturunkan dari truk. “Kalau nggak segera diselesaikan nanti bisa bingung,” jelasnya.

Memang, pria kelahiran 10 April 1978 ini paling anti dengan menunda pekerjaan. Menurutnya, apa yang bisa dilakukan saat itu maka harus segera diselesaikan. Begitu juga ketika mendapat ide, maka saat itu juga dia harus merealisasikan ide tersebut. Cara ini ternyata sangat ampuh dalam mengembangkan bisnisnya.

Awalnya, pria yang akrab disapa Iie ini hanya memiliki sebuah toko plastik kecil di Mojokerto. Toko itu adalah peninggalan orangtuanya. Akhirnya muncul ide untuk mengembangkan di Surabaya. Berhubung di Surabaya banyak pesaing, akhirnya dia mencari ide agar tokonya banyak dicari pelanggan. “Waktu itu saya lihat, banyak pembeli yang tanya-tanya dulu sebelum beli plastik, terutama mereka pebisnis baru. Biasanya sebelum beli, mereka banyak tanya tentang jenis dan harga plastik. Akhirnya muncul ide untuk membuat toko ini lebih nyaman seperti suasana rumah. Tujuannya agar pembeli nggak canggung kalau mau tanya-tanya,” paparnya.

Untuk merealisasikan idenya itu, dia nekat mengubah bentuk bangunan tokonya, dari yang semula mirip dengan toko menjadi mirip bangunan rumah. Dia menyediakan sofa santai agar pembeli bisa duduk dan ngobrol-ngobrol, maka diubahlah nama tokonya menjadi Rumah Plastik. “Ke depan saya justru pengen membuat mini cafe agar pembeli bisa ngobrol sambil minum-minum, biar suasananya seperti di rumah,” ungkap pria berkacamata ini.

Diakui bahwa persaingan dalam bisnis plastik berkembangan sangat ketat. Jika tidak pandai berinovasi maka akan tenggelam dan hanya menjadi penonton. Itu sebabnya, dalam mengembangkan bisnisnya, dia lebih mengutamakan ide, inovasi dan kreatifitas. “Kuncinya adalah fokus dengan pasar, ikuti trend dan perhatikan harga. Jangan selalu dikasih harga murah, karena bisa mematikan bisnis itu sendiri. Kalau terlalu murah, nanti pasti ada yang jadi korban, jadi lebih baik kasih harga yang pantas biar semua pendukung bisa tetap jalan,” kata ayah dari 2 anak ini.

Ke depan dia ingin membangun cabang baru agar bisa memenuhi semua permintaan. Apalagi saat ini pelanggannya tidak hanya di Jawa, namun juga di Bali hingga Papua. Permintaan pasar pun saat ini tidak hanya tentang kemasan, namun juga desain. Itu sebabnya, dia juga menggali ide untuk membuat desain kemasan yang menarik dan memiliki nilai jual. Sebab tidak semua desain bagus itu memiliki nilai jual. (noe)