Belajar Bisnis Dari Dimsum

0

a‘Sukses adalah saat bisa berbagi dengan orang lain, ketika saya senang, orang-orang disekitar saya juga merasa senang, orang-orang itu adalah karyawan saya’ (Dewi Damayanti, Owner Dimsum Choie)

Jika ada niat serta kemauan untuk berbisnis, disitu pasti akan ada jalan untuk meraih sukses, meskipun belajar bisnisnya secara otodidak. Hal inilah yang dilakukan oleh Dewi Damayanti, atau yang akrab dipanggil Maia, Owner Dimsum Choie. Sukses menjadi suplayer memenuhi kebutuhan dimsum diberbagai kota-kota yang ada di Indonesia, Maia akhirnya membuka restoran dimsum miliknya di akhir tahun 2013. Ide awalnya datang saat dia berpikir bagaimana bisa menghadirkan dimsum, yang biasa ada di hotel dan mall-mall, kedalam kelas kaki lima yang harganya jauh lebih murah. Wanita kelahiran Banyuwangi ini sharing ide dengan adik iparnya yang juga seorang koki, dan lahirlah bisnis ini yang mulai dijalankan di awal tahun 2012.

Brand Choie sendiri dipilih sebagai kata sapaan yang awalnya sebagai kata Coy, tapi penulisannya dibuat dengan huruf C, H, O, I, dan E. Sebagai suplayer dimsum kaki lima, Choie juga diwaralabakan dengan sistem tanpa franchise fee dan tanpa royalty fee. Saat ini karyawannya berjumlah 52 orang, yang terbagi dalam bagian produksi dan operasional. Sebagai ibu rumah tangga biasa, sarjana hukum ini memiliki niat dan kemauan yang besar untuk belajar berbisnis dan memajukan usahanya, meski semuanya dilakukan secara otodidak. Ide dan kreativitasnya akhirnya membuahkan hasil, dimana produknya diterima dan diminati pasar serta mulai membuka resto dimsum pertamanya, yang berlokasi di jalan MERR, Surabaya.

Tidak hanya dimsum yang ditawarkan restonya, Maia juga menghadirkan Suki, Steak, dan varian lainnya, untuk menu pilihan bagi pengunjung. Awalnya resto ini menyasar anak-anak muda, tapi seiring berjalannya waktu banyak orang tua dan anak-anak yang juga suka dengan menu yang ditawarkannya. Masa-masa sulit Dia rasakan saat memulai usaha ini, mulai dari belanja bahan hingga mencatat buku tagihan secara manual dilakukannya sendiri, karena saat itu sistemnya masih belum tertata dengan baik. Maia mengaku dari usahanya belajar berbisnis ini, akhirnya Dia tahu prosesnya. Menurutnya, pebisnis perlu banyak belajar dan jangan mudah menyerah, karena tantangan dan ujian selalu ada, harus siap jatuh bangun untuk mengembangkannya.

Dukungan suami, teman, sodara, karyawan, dan pelanggan-pelanggannya membuat Dia bersemangat untuk terus membangun dan mengembangkan usahanya ini. Membaca dan travelling merupakan hobinya, sedangkan motto hidupnya adalah bermanfaat bagi orang lain, karena hal itu juga akan memberikan ketenangan dan keberkahan baginya. Maia sangat yakin bahwa sukses usahanya ini ada campur tangan Allah didalamnya, Dia berada dalam bisnis ini bukan suatu kebetulan, karena sudah ada yang mengatur. ‘Sukses menurut saya adalah saat bisa berbagi dengan orang lain, ketika saya senang, orang-orang disekitar saya juga merasa senang. Orang-orang itu adalah karyawan-karyawan saya, yang sudah banyak membantu’, tegas Maia.