Aditya Hayu Wicaksono

0

Aditya Hayu Wicaksono

Tertantang Ubah Image Menyeramkan Jadi Menyenangkan

 

Banyaknya bangunan heritage di Surabaya menginspirasi Aditya Hayu Wicaksono, Owner and Founder PT Prajna Global Indonesia untuk membuat café dengan konsep heritage. Ide ini muncul ketika menemani Ibu-nya yang berobat di RS Darmo Surabaya.

“RS Darmo itu kan bangunannya sangat kuno. Saat menjaga Ibu yang lagi opname disana, saya sempat bingung mencari tempat untuk makan minum dengan suasana yang beda. Maklum namanya juga rumah sakit, jadi suasananya kan tau sendiri, agak membosankan. Makanya saya ingin cari tempat yang agak beda. Dari situlah muncul ide membuat tempat makan minum dengan suasana heritage,” jelasnya kepada Iklan Pos, Rabu (23/12).

Setelah membuat konsep dan mengolah menu, Adit memberanikan diri bekerjasama dengan RS Darmo untuk mendirikan Darmo Heerlijk (Herlijk dalam bahasa Belanda berarti Enak). “Waktu itu saya hanya berpikir di Surabaya ini belum banyak café yang mengusung konsep heritage. Padahal Surabaya ini kaya akan bangunan-bangunan heritage,” tambahnya.

Akhirnya, di penghujung tahun 2010 Darmo Heerlijk resmi dibuka. Usahanya kini berkembang menjadi 5 outlet. Empat diantaranya ada di Surabaya, sedangkan 1 outlet di Banyuwangi. Khusus untuk Surabaya, dia banyak menggunakan bangunan kuno seperti Perpustakaan Daerah di Jl. Menur dan Perpustakaan BI di Jl. Raya Darmo (bekas Museum Mpu Tantular).

“Tantangannya justru disitu. Café Heerlijk itu kebanyakan nempel sama bangunan-bangunan kuno yang terkesan menyeramkan. Disini kami harus mengubah image-nya menjadi tempat menyenangkan. Jadi, selain menawarkan suasana dan menu, kami juga memberi edukasi ke pelanggan tentang Surabaya. Misalnya, café kami ini sering dipakai untuk kegiatan komunitas-komunitas di Surabaya. Kadang hanya sebatas kumpul-kumpul, tapi ada juga yang pameran, bedah buku, atau mini talkshow,” jelas alumni ITS ini.

Justru dari kegiatan tersebut, cafenya kerap didatangi pejabat Pemkot, termasuk Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Itu sebabnya, dia sangat terbuka jika ada komunitas yang ingin membuat kegiatan di cafenya. Strategi marketing seperti itu justru dianggap lebih menguntungkan daripada sekedar menyebar brosur.

Selain disibukkan dengan bisnis kuliner, pria yang akrab disapa Adit ini juga harus membagi waktunya dengan bisnis lain, seperti SPBU dan distributor LPG di kawasan Kediri. Menurutnya, passion sebagai pebisnis membuat sangat mencintai tantangan. Justru dengan adanya tantangan, dia makin terpacu untuk berpikir kreatif.

Ke depan, dia ingin mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya di Surabaya, tapi juga luar Surabaya, seperti Sidoarjo, Malang, Solo. Dia optimis bahwa keinginannya ini akan terwujud pada tahun 2016 nanti. Alasannya, selama ini banyak daerah yang belum memiliki café dengan konsep heritage. Jadi, sebelum memutuskan membuka outlet, dia harus mempelajari bangunan heritage di daerah tersebut. (noe)