Nilai Tradisi Keberadaan Sinterklas




Secara umum yang ingin diangkat dari kisah Sinterklas ini adalah makna memberi kepada kaum miskin, atau mereka yang kurang mampu.

a2

Bulan desember merupakan bulan yang penuh makna bagi umat kristiani, pada bulan ini umat kristiani diseluruh dunia merayakan hari kelahiran Yesus Kristus sebagai juru selamat, yang jatuh pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Seperti halnya perayaan hari-hari besar agama lainnya, perayaan Natal juga memiliki nilai tradisi didalamnya. Hadirnya tradisi Pohon Natal, Kartu Natal, Sinterklas, Pit Hitam dan berbagai cerita serta kisah Natal merupakan symbol dari tradisi tersebut. Meskipun banyak kontroversi di dalamnya tentang keberadaan Sinterklaas, ada beberapa nilai positif yang bisa diambil dari kisah dan tradisi keberadaannya.

Hadirnya tokoh Sinterklas, yang mengendarai kereta rusa sambil membawa banyak hadiah dan masuk diam-diam ke dalam rumah lewat cerobong asap, sangat menarik bagi anak-anak, meskipun kisah ini hanya dongeng atau legenda semata. Di Indonesia sosok Sinterklas dikenal sebagai kakek baik hati yang selalu memberikan hadiah kepada anak-anak di hari Natal. Hadiah itu akan diberikan kepada anak-anak yang berperilaku baik. Hal ini bukanlah makna sebenarnya tentang kehadiran dan keberadaan tokoh Sinterklas saat perayaan Natal, karena sebenarnya informasi tentang kebenaran asal cerita Sinterklas tidak seperti itu, ada berbagai versi yang menceritakan keberadaannya.

Sinterklas yang dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa Klaus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa adalah tokoh dalam berbagai budaya, yang menceritakan tentang seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada saat Natal. Santo Nikolas dari Myra adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen tentang Sinterklas. Dia adalah uskup Myra di Lycia, yang saat ini merupakan bagian dari Demre, Turki, pada abad ke 4. Nikolas terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Dia sangat religius dari awal umurnya, dan mencurahkan hidupnya untuk Kristen. Di Eropa Dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi.

Walaupun Sinterklas merupakan gambaran dari seorang uskup gereja Katolik, Paus tidak yakin akan kebenarannya, karena pada kenyataannya lebih banyak dongeng atau khayalan yang dibuat mengenai Sinterklas, bahkan juga tercampur dengan berbagai kepercayaan dan budaya. Pada 1970 Vatikan menghapus dan mencoret nama Sinterklas dari daftar orang-orang suci, tetapi karena banyaknya protes yang berdatangan, akhirnya Vatikan memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk memilih apakah Sinterklas termasuk orang suci atau bukan, diserahkan kepada diri masing-masing, tetapi secara resmi Sinterklas bukan termasuk orang yang dianggap suci lagi.

Secara umum yang ingin diangkat dari kisah Sinterklas ini adalah makna memberi kepada kaum miskin, atau mereka yang kurang mampu. Menjelang Natal, sosok pria tinggi besar, berjenggot putih dan berjubah tebal warna merah, akan sering muncul di sejumlah tempat, dan memberikan hadiah pada anak-anak. Banyak dari mereka yang bertanya apakah hal ini baik untuk perkembangan anak. Disinilah pentingnya orang tua harus mencari tahu dan belajar tentang latar belakang keberadaan kisah Sinterklas, serta nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya, untuk disampaikan pada anak, melalui media yang mudah dimengerti anak.

Orang tua harus bisa mengambil sisi positif dari dongeng Sinterklas, orang tua bisa mengaktifkan dunia fantasi anak, sehingga daya imajinasinya juga bisa terasah. Dongeng memiliki manfaat penting terhadap perkembangan anak, oleh karena itu orang tua memiliki peran yang sangat penting, untuk menyampaikan pesan positif bagi perkembangan anak. Meskipun Santa Claus menjadi tokoh dalam tradisi Natal, tetapi sifatnya hanya sebagai pelengkap Natal, sehingga tidak berdampak besar bagi perkembangan anak-anak penganut Kristiani dalam mengimani makna Natal. Sama halnya seperti menghias Pohon Natal, atau membuat serta mengirim Kartu Natal sebagai bentuk kebersamaan merayakan Natal.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*