Sekolah Usia Dini, Kebutuhan atau Ambisi

0

Kesibukan orangtua seringkali menjadi alasan minimnya komunikasi dan kebersamaan antara orangtua dan anak. Akibatnya, orangtua memilih menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan pra sekolah. Mereka menganggap bahwa dengan menyerahkan pendidikan anak pada ‘lembaga pendidikan’ yang dianggap berkompeten, maka masa depan anak menjadi lebih cerah.

“Selama hanya memperkenalkan anak pada lingkungan sekolah sih nggak masalah, tapi kalau sampai orangtua memasang target, itu yang bahaya,” kata Kartikanita Widyasari S.Psi , Pemerhati Anak kepada Iklan Pos, Senin (18/2).

Masalahnya adalah, banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya sejak usia dini dengan target kelak anaknya memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu. Padahal di satu sisi, usia 1-5 tahun adalah termasuk fase golden age. Artinya adalah fase dimana anak-anak seharusnya menerima metode pembelajaran sambil bermain. Jika pada usia tersebut anak memiliki banyak kegiatan sehingga kehilangan masa bermain, maka ketika memasuki usia sekolah nanti, anak akan jenuh dan berpengaruh terhadap prestasinya di sekolah.

“Efek terburuknya adalah, anak menjadi tidak pe-de alias percaya diri. Ada kekhawatiran dia merasa tidak bisa menjadi sesorang yang diinginkan orangtuanya. Bisa-bisa, anak menjadi stress dan terbeban,” tambahnya.

Lalu bagaimana jika kedua orangtua bekerja sehingga tidak memiliki banyak waktu dengan anak ?

Kuncinya adalah quality time. “Boleh saja orangtua ‘menyekolahkan’ anaknya pada lembaga pendidikan usia dini. Namun pantau terus perkembangan anak, jangan lepas tangan. Dan yang terpenting, jangan memasang target apapun. Biarkan anak memilih apa yang disuka. Kenalkan bahwa proses belajar itu menyenangkan, sehingga buat suasana rumah sebagai tempat yang menyenangkan juga,” papar wanita yang ahli mendongeng ini.

Pendidikan usia dini yang tepat adalah pendidikan yang tidak mengenal kurikulum. Sedangkan bahasa

yang dibutuhkan pada anak-anak usia dini adalah bahasa ibu. Artinya, sesibuk apapun orangtua terutama seorang ibu, namun dia harus menyerahkan hati dan waktu sepenuhnya kepada anak terutama jika sudah berada di rumah.

Jangan libatkan ambisi orangtua dan jangan mudah puas jika anak sudah menjadi sosok yang diinginkan orangtua. Karena belum tentu prestasi yang diraih sesuai dengan keinginannya. “Aktifitas fisik memang dibutuhkan, namun jangan biarkan anak menjadi korban ambisi orangtua,” pungkasnya. (noe)