Momen Berbagi Maaf Lebaran

0

a1Dalam ilmu psikologi dan sosial, anjuran saling bermaafan ini sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa sebagai cara penyembuhan diri, karena memberi maaf itu bisa menyembuhkan hati yang terluka.

Bulan Ramadhan akan segera berlalu di bulan Agustus ini, setelah umat muslim melakukan ibadah puasa sebulan penuh. Sebagai puncaknya umat muslim akan merayakan hari kemenangan atau hari raya Idul Fitri di tanggal 1 Syawal 1434 H. Ketika melaksanakan ibadah puasa dan menjaga hawa nafsu saat berada di bulan yang penuh berkah, umat muslim akan kembali suci di hari Idul Fitri seperti bayi yang baru dilahirkan. Ampunan dari Allah dan anjuran saling bermaafan terhadap sesama, sebenarnya merupakan momentum yang sangat baik untuk merubah dan menjadikan kita sebagai manusia atau pribadi baru dengan tatanan yang harus lebih baik dari sebelumnya.

Dalam ilmu psikologi dan sosial, anjuran saling bermaafan ini sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa sebagai cara penyembuhan diri, karena memberi maaf itu bisa menyembuhkan hati yang terluka. Memberi maaf membebaskan orang lain dari tuntutan kewajiban, yang artinya membebaskan pula diri dari niat menuntut dan mewajibkan. Tuntutan dan kewajiban ini mengikat satu sama lain, yang satu diikat tuntutan sedangkan lainnya terikat menuntut. Saling bermaafan dengan maaf yang tulus, dilandasi kesadaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna, dan berpotensi melakukan kesalahan, mampu membebaskan ikatan-ikatan itu.

Memberi maaf yang tulus memang tidak lah mudah untuk dilakukan sepenuh hati, perlu persiapan mental agar kita bisa lebih dewasa dalam menyikapinya. Hubungan masa lalu yang buruk baik dalam hal disengaja atau tidak disengaja, membuat kita berpikir panjang untuk mengikhlaskan kejadian itu. Oleh karena itu hal ini akan juga berpengaruh pada kadar keikhlasan kita saat saling bermaafan. Banyak dari mereka yang hanya saling berbagi maaf di hari raya Idul Fitri sebagai formalitas saja, tidak ada perenungan yang lebih mendalam, bahwa momen ini merupakan sebuah titik balik yang nantinya akan membuat perubahan kearah perbaikan yang lebih baik.

Bermaafan menjadi tradisi-tradisi unik di negeri ini saat hari raya Idul Fitri tiba, mulai bermaafan dengan keluarga, teman, tetangga dan lain sebagainya. Tradisi mudik dan halal bihal pun menjadi bagian dari rangkaian untuk bersilaturrahmi dan saling meminta dan memberi maaf untuk orang-orang yang kita kenal. Kehadiran fisik kita saat mudik merupakan sesuatu hal yang tidak dapat digantikan dengan hanya bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan melalui gadget, atau perangkat komunikasi yang ada. Permintaan maaf menjadi terlihat abstrak dan terasa kurang tulus, apabila kita hanya melakukannya lewat telpon, SMS, BBM, atau media sosial, tidak bertemu secara fisik.

a2Hari Raya Idul Fitri adalah momen kembali menuju fitrah, untuk mengambil langkah-langkah baru demi keberhasilan dimasa mendatang. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu berpikir benar-benar dari nol. Menyusun langkah seolah tidak ada beban dipundak kita, yang tersisa dari masa lalu hanyalah hikmah yang akan menjadi bekal kita menapaki jalan yang akan kita tempuh. Kita sudah berubah menjadi lebih baik, baik dari segi fisik maupun jiwa melalui melalui bulan Ramadhan. Meskipun dalam kadar yang berbeda perubahannya, pasti akan membuat hidup lebih positif, melangkah lebih mantap dan bersemangat, namun lebih ringan, meraih cita-cita mulia.
Setelah melewati Idul Fitri kita berada di kehidupan yang baru tanpa beban, sehingga lebih mantap untuk memandang masa depan yang lebih baik, untuk di dunia dan diakhirat. Kembali ke fitrah juga menuntut diri kita memulai istiqamah baru, agar kita tetap menjaga kefitrahan yang sudah susah payah kita capai melalui bulan Ramadhan. Tentunya kita berharap bisa berjumpa lagi dengan ramadhan di tahun depan. Kembali ke fitrah bukan berarti kita bebas lagi melakukan dosa-dosa lagi, justru harus menjaga agar diri kita tetap bersih. Mudah-mudahan momen kembali ke fitrah ini bisa menjadikan diri kita siap mengarungi hidup menuju sukses dunia akhirat.