Menanamkan Entrepreneurship Sejak Dini

0

1aMasuknya kurikulum Entrepreneurship dalam kurikulum pendidikan nasional akan memperkaya sistem pendidikan kita, yang pada ahirnya akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa Entrepreneurship secara luas dan menyeluruh di Indonesia.

Pembelajaran di sekolah hendaknya relevan dengan kebutuhan saat ini dan kebutuhan dimasa yang akan datang untuk peserta didik. Untuk itu pembelajaran hendaknya melibatkan peserta didik dalam suasana yang menyenangkan, dan dapat mengembangkan kompetensi atau kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah dan tantangan dalam dunia nyata, yang dihadapinya saat ini dan saat ketika mereka sudah dewasa. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja.

Pendidikan menjadi sangat berarti jika terkait dengan masa depan peserta didik, sehingga memotivasi guru untuk mengajar dan peserta didik untuk belajar. Guru dalam kegiatan mengajarkan kecakapan hidup pada peserta didik, dapat menggunakan pembelajaran kontekstual, mengaitkan antara materi mata pelajaran dengan dunia nyata. Pembelajaran kontekstual mengajarkan kecakapan hidup untuk membantu peserta didik melihat kaitan antara pelajaran di sekolah dengan kehidupan atau pekerjaan. Kegiatan pembelajaran harus mendukung tumbuh kembangnya pribadi yang mempunyai jiwa Entrepreneursip.

Entrepreneursip adalah aktivitas yang secara konsisten dilakukan guna mengkonversi ide-ide yang bagus, menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan. Entrepreneurship merupakan kecakapan kreatif, kemampuan atau inisiatif untuk menciptakan dan membangun suatu usaha yang asalnya tidak ada, atau mengembangkan usaha yang sudah ada. Masuknya kurikulum Entrepreneurship dalam kurikulum pendidikan nasional akan memperkaya sistem pendidikan kita, yang pada ahirnya akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan Entrepreneurship secara luas dan menyeluruh di Indonesia.

Kegiatan Entrepreneursip lebih banyak berkaitan dengan kecakapan vokasional, yaitu kecakapan yang terkait dengan bidang pekerjaan dan lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional terbagi atas kecakapan vokasional dasar dan kecakapan vokasional khusus, meliputi keterampilan yang berkaitan dengan kejuruan (seperti menjahit, bertani, otomotif dan lain sebagainya), keterampilan bekerja, keterampilan kewirausahaan, keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau keterampilan merangkai alat.

Kecakapan vokasional menyatukan semua kecakapan yang terkait dengan dunia kerja, termasuk sikap positif dalam bekerja. Mempraktekkan kecakapan vokasional penting untuk membekali peserta didik dengan kecakapan teknis dan sikap yang dituntut oleh perusahaan atau lembaga yang menyediakan lapangan kerja. Kecakapan vokasional menunjukkan serangkaian kecakapan sosial, personal, akademik dan kecakapan yang terkait dengan pekerjaan yang bersifat kompleks, termasuk sikap, perilaku, persepsi dan kemampuan, sehingga seseorang dapat menemukan dan mempertahankan suatu pekerjaan, baik ia bekerja dalam suatu perusahaan atau usaha pribadi.

Dengan demikian peserta didik yang memiliki kecakapan hidup, akan memberi manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Bagi dirinya, peserta didik memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk bekerja atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dengan menjadi entrepreneur, serta memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecakapan mereka lebih lanjut. Seseorang yang berjiwa Entrepreneurship memiliki kebiasaan berpikir kreatif, orang yang berpikir kreatif mempunyai kemampuan menciptakan dan membuat sesuatu yang baru ataupun mengembangkan sesuatu yang sudah ada dengan kreasi yang baru.

Menurut Fransiska Rini Utami, staf guru Sekolah Citra Berkat (Entrepreneur School) Surabaya, Pembelajaran kontekstual terfokus pada pengembangan ilmu, pemahaman, keterampilan peserta didik, dan juga pemahaman kontekstual peserta didik tentang hubungan mata pelajaran yang dipelajarinya dengan dunia nyata. Pembelajaran akan bermakna, jika guru lebih menekankan agar peserta didik mengerti relevansi apa yang mereka pelajari di sekolah dengan situasi kehidupan nyata, dimana pelajaran akan diterapkan. Guru dan siswa harus kreatif membuat media pembelajaran, yang idenya bisa datang dari guru atau siswa, mengenai teori mana yang mau dibuktikan.

Guru menggunakan pembelajaran kontekstual sebagai cara untuk mengajarkan kecakapan hidup yang terkait dengan pekerjaan. Cara yang dilakukan guru antara lain memasukkan kegiatan keentrepreneuran, membangun kerjasama kelompok dan berpikir kritis ke dalam kurikulum mata pelajaran. Misalnya, pembelajaran cara pemecahan masalah dalam suatu kasus sebagai upaya membantu peserta didik mengembangkan kemampuan menilai risiko, mengambil keputusan, bekerjasama dengan kompak, dan mengenali kesempatan, serta membantu peserta didik berfikir kritis, kreatif dan mandiri.

Pembelajaran kontekstual mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman dalam dunia nyata, yang berpusat pada peserta didik untuk berfikir, aktif, kritis, kreatif, dapat memecahkan masalah, belajar dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan, serta menggunakan berbagai sumber belajar. Jadi lebih belajar pada kehidupan nyata, intinya media pembelajaran tidak membatasi hanya pada buku paket saja, tapi juga pada sumber belajar praktikumnya, seperti lewat media internet, mendatangkan narasumber yang berkompeten dibidangnya dan lain sebagainya.

Kegiatan dan strategi pembelajaran kontekstual dapat berupa kombinasi dari kegiatan pembelajaran berbasis kerja, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan konteks tempat kerja dan membahas penerapan konsep mata pelajaran di lapangan. Kemandirian, membiasakan anak tidak tergantung kepada orang lain, termasuk tergantung pada orang tuanya. Anak yang tergantung pada orang lain atau orang tua, minta selalu ditemani atau bahkan minta selalu ditolong dalam melakukan hal hal yang kecil, yang seharusnya dia bisa melakukannya sendiri. Menanamkan Entrepreneursip sejak dini sangatlah penting bagi buah hati kita, untuk bekal masa depannya.