Hany di OBKG sekolah di jepang bisa gratis

0

Sebagai negara yang terkenal dengan kecanggihan teknologinya, Jepang merupakan negara yang tepat dalam mengembangkan ilmu. Tak heran jika kemudian banyak pelajar yang memilih melanjutkan studinya di negara Sakura ini, termasuk pelajar Indonesia.

Sayangnya, selama ini orang berpikir bahwa kuliah di Jepang sangat mahal dan hanya bisa ditempuh lewat jalur beasiswa. “Biaya sekolah dan biaya hidup di Jepang itu tidak mahal. Kalau Tokyo memang mahal, tapi di Osaka lebih murah,” kata Dominggus Victor Ludong, School Representative Osaka Bunka Kokusai Gakkoh (OBKG) kepada Iklan Pos, Kamis (17/9).

Dia lantas merinci pengeluaran biaya kuliah dan biaya hidup di Osaka. Untuk biaya kuliah, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 5-6 juta per bulan, sedangkan biaya hidup sekitar Rp 5-7 juta per bulan. Sehingga total pengeluaran bulanan mencapai Rp 10-12 juta.

“Tidak perlu khawatir, karena kami akan membantu siswa mendapatkan kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di Osaka, gaji paling kecil yang diterima untuk mereka yang bekerja 28 jam per minggu itu mencapai Rp 11 juta. Kalau mereka mau kerja ekstra, maka pendapatannya juga lebih besar, malahan bisa menabung. Artinya, semua biaya itu bisa ditutupi tanpa harus mengandalkan kiriman dari orangtua,” jelasnya.

Kenapa harus masuk OBKG dan kenapa harus bekerja paruh waktu?

Intensitas belajar di Jepang berbeda dengan di Indonesia. Biasanya, siswa yang tidak melakukan adaptasi dan langsung masuk perguruan tinggi bisa kelimpungan dan stress. Jepang adalah negara yang terkenal dengan kedisiplinan dan kecekatan kerjanya. Oleh karena itu selain melatih bahasa, OBKG juga mempersiapkan mental para murid, salah satunya melalui kerja paruh waktu.

Ada sekitar 750 universitas dan ribuan jurusan di Jepang. Setiap tahun OBKG membantu 100-120 murid dari Indonesia untuk kuliah ke Jepang. Jurusan-jurusan yang banyak diminati adalah jurusan teknik (informatika, mesin, sipil, industri, kimia, robotik, dsb), arsitektur, food tech, business management, hubungan internasional, komputer grafis, kuliner, fashion, dan masih banyak lagi.

Pada umumnya, ada 5 fase yang dialami siswa Indonesia saat belajar di Jepang. Pertama adalah euphoria, segala sesuatu begitu menyenangkan. Beberapa bulan kemudian mereka mulai merasa jenuh dan homesick. Lalu fase dimana mereka terbentur masalah, baik itu masalah di pelajaran, pekerjaan atau dengan teman. Tapi jangan khawatir, karena ini adalah tahapan normal yang dialami murid-murid lain. Setelah bertahan hidup selama beberapa bulan, murid akan melewati fase tersebut dan memasuki fase adaptasi dimana mereka mulai merubah kebiasaan lama mereka dan sampai akhirnya ke fase terakhir yaitu asimilasi ke budaya Jepang.

Lalu, bagaimana mendapatkan informasi tentang kuliah di Jepang ?
Sederhana saja. OBKG siap membantu semua kebutuhan informasi tentang sekolah dan budaya di Jepang. “Biasanya sebelum masuk perkuliahan, anak-anak belajar bahasa di Jepang selama 1.5 tahun. Nah, di OBKG-lah tempatnya. Kami juga membantu siswa yang ingin kerja paruh waktu secara resmi. Bahkan kalau ada yang berprestasi bisa dapat beasiswa,” ujarnya.

Gedung sekolahnya sangat nyaman dan disediakan asrama. Disana, siswa juga bisa berkenalan dengan siswa dari negara lain, sehingga wawasan mereka tentang budaya di negara lain bisa berkembang.

Informasi dan pendaftaran OBKG bisa diperoleh di :
OBKG – Kantor Perwakilan Indonesia
Plaza Graha Family D-15
Jl Bukit Darmo Boulevard, Surabaya.
Telp: 031-7385182
HP: 081 5508 1984
FB:  www.facebook.com/obkg.sby