Fusion Jazz Community, Per-erat Komunikasi Melalui Event Manggung

0

“Kalau bergabung dalam komunitas itu harus siap berbagi. Kalau hanya berharap mendapatkan sesuatu, maka komunitas itu ndak akan langgeng,” saran Bestari Prawidyo, pengurus Fusion Jazz Community (FJC) kepada Iklan Pos, Minggu ( 23/8).

Konsep berbagi yang dimaksud tidak hanya tentang materi, tapi juga pengalaman dan networking. Sebab, anggota komunitas biasanya terdiri dari orang-orang yang memiliki hobi sama. Seperti yang terlihat dalam keanggotaan Fusion Jazz Community yang mayoritas anggotanya adalah musisi dan penikmat music, terutama jazz. Meski baru resmi berdiri, tepatnya pada tahun 2011, namun jumlah anggota yang terdaftar sudah mencapai 12.000 member. “Itu kalau dikumpulkan di lapangan bola bisa penuh stadionnya” canda pemilik sekolah music Mayura ini.

Apakah setiap member (sebutan untuk anggota FJC) saling mengenal ?

“Tidak juga. Media komunikasi kami adalah sosmed facebook, karena banyak member yang berasal dari luar Surabaya. Biasanya kami komunikasi lewat situ. Tapi kalau yang di Surabaya biasanya sudah saling kenal. Kalau ada event, biasanya kami pakai untuk saling mengenal,” tambahnya.

Memang, eksistensi komunitas yang satu ini bisa dibilang sangat padat. Hampir setiap minggu selalu ada event. Keberadaan event inilah yang membuat hubungan mereka makin akrab. “Biasanya kalau ada event, kami berebut untuk membantu. Misal, ada yang punya sound system maka dia yang support. Lalu siapa yang mau support peralatan musiknya, pemain, atau bahkan akomodasi dan transportasi,” ujar pria yang pandai memainkan semua alat music ini.

Bisa dimaklumi, karena keanggotaan JFC adalah dari berbagai profesi dan usia. Ada yang dari kalangan pelajar, mahasiswa, pengusaha, musisi, bahkan pejabat. Mereka juga bukan hanya musisi jazz, tapi banyak juga penikmat music jazz.

Bicara tentang aliran musik, meski menggunakan nama ‘Jazz’, namun bukan berarti musik yang dimainkan beraliran jazz murni, namun bisa dikombinasikan dengan aliran musik lain. Itu sebabnya, mereka menggunakan istilah ‘fusion’ agar bisa dikolaborasikan dengan aliran musik lain. Seperti: Rock Jazz, Hiphop Jazz, maupun Pop Jazz.

Pria yang akrab disapa Ari ini lantas menjelaskan awal mula terbentuknya Fusion Jazz Community. Awalnya, dia bersama beberapa teman sesama pemusik ingin membentuk kelompok band. Namun melihat industry musik saat ini berpusat di Jakarta, sedangkan dia dan rekannya beraktivitas di Surabaya, lalu muncul ide membuat komunitas.

“Kalau komunitas itu jangkauannya bisa lebih luas. Lagipula musik adalah hobi kami. Diluar musik, kami punya kesibukan masing-masing. Daripada banyak yang dikorbankan, lebih baik dibentuk komunitas saja,” tambahnya.

Benar juga, sejak FJC berdiri, makin banyak pihak yang mendapatkan manfaat lebih. Mulai dari jaringan networking yang makin kuat, kemampuan bermusik yang makin terasah, juga ikut mendukung berbagai program kemanusiaan, seperti Sosialisasi BNN (Badan Narkotika Nasional).

Berikut ini beberapa kegiatan yang di support FJC, yaitu Fusion Jazz Area yang ditayangkan rutin sebuah TV Lokal Surabaya, Agro Jazz yang diadakan di Pegunungan, Jazzay No To Drugs, Jazz Room yang dilakukan di hotel-hotel, maupun Toendjoengan Jazz Street. (noe)