Bukit Turgo, Saksi Sejarah ‘Wedhus Gembel‘ Gunung Merapi

0

Jelajah wisata edisi kali ini sangat special, karena Tim Iklan Pos berkesempatan menjelajahi Bukit Turgo yang terletak di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Konon Bukit ini merupakan saksi sejarah aliran lahar dan ‘wedhus gembel’ yang dikeluarkan Gunung Merapi.

Pertama kali menjejakkan kaki di Bukti Turgo, kami langsung disapa oleh hamparan padang rumput yang sangat asri. Hamparan padang rumput yang ada disekitar Bukit Turgo seakan menghilangkan kesan ‘seram’ yang selama ini kami bayangkan. Bisa jadi, sebab di sekitar Bukit Turgo banyak ditemui jurang yang sangat dalam. Namun ada kesan mistik yang kami temukan selama perjalanan, yaitu saran dari tim pemandu agar kami tidak menggunakan telunjuk tangan untuk menunjuk apapun di sekitar area Bukit Turgo.

Bukit Turgo merupakan saksi bisu dari keberadaan Dusun Turgo yang kini banyak didatangi wisatawan. Bukit Turgo inilah yang banyak menyelamatkan warga Dusun Turgo dari amukan ‘wedhus gembel’ alias awan panas pada tahun 2010 lalu. Namun ada satu kisah yang tak bisa dilupakan, yaitu tragedy pada tahun 1994. Ketika itu ada salah satu dusun yang sedang mengadakan hajatan pernikahan. Berhubung masyarakat sekitar saat itu belum mengetahui bahaya awan panas dari Gunung Merapi, mereka tetap keluar rumah untuk merayakan pernikahan salah satu warganya. Lalu tiba-tiba, awan panas yang keluar sangat cepat langsung melanda dusun tersebut. Dan seketika, hampir seluruh warga menjadi korban, termasuk si pemilik rumah yang sedang menggelar pesta pernikahan.

Sejak saat itu, warga sekitar lebih hati-hati jika ada awan panas. Mereka sangat tertolong dengan keberadaan Bukit Turgo yang kerap melindungi mereka dari bahaya awan panas. Di bagian atas bukit terdapat makam keramat dari Kyai Turgo atau yang dikenal dengan nama Syekh Jumadil Qubro. Beliau adalah penjaga lereng Merapi yang dikenal karena kesaktiannya. Makam ini terletak di sebelah barat Bukit Plawangan yang jaraknya sekitar 1 km dari Gunung Merapi.

Setiap penanggalan 1 Muharam, biasanya banyak umat Islam yang ber-ziarah ke Bukit Turgo dan beramai-ramai menggelar upacara tradisional berupa persembahan sesaji yang terdiri dari hasil bumi dan mengarak sesaji tersebut dari satu mata air ke mata air lain dan berakhir di makam Kyai Turgo.

Untuk mencapai bukit tersebut, medan yang harus ditempuh ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Sebelumnya, Tim Iklan Pos harus menyusuri Kali Krasak yang panjangnya sekitar 4,5 km. Bebatuan terjal dan kondisi tanah yang tidak rata menjadi tantangan kami. Beruntung, kami banyak dibantu oleh tim pemandu dari Omah Noto Plankton (ONP).

Pemandu ONP inilah yang mengajak kami untuk melinhat asrinya lahan salak pondoh yang luasnya mencapai 700 hektar. Sungguh pemandangan yang tidak akan kita temui di Surabaya. Hamparan pohon salak yang dipenuhi banyak buah siap panen membuat kami tergoda untuk memakannya. Benar juga, salak pondoh tersebut benar-benar manis dan jarang kita temui di Surabaya. Buahnya lebih besar dan bijinya tidak terlalu besar. Setelah puas ‘pesta salak’, tim Iklan Pos kembali melanjutkan perjalanan.

Agar perjalanan tidak terasa membosankan, kami diajak menyusuri sungai Krasak sambil mengikuti berbagai permainan. Tanpa terasa, selama perjalanan, kami sudah melewati Bendungan Sempu I, Sempu Baru, Bedok Krasak, Suro, Pandan dan bendungan Kali Ireng.

Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan, namun sangat seru. Selain diajak untuk menjaga kekompakkan dalam tim, kami juga diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti Bukit Turgo. Terima kasih tim Omah Noto Plankton. The Great Adventure. (noe)