Berjuang itu Harus Siap MERDEKA atau MATI

0

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, Maka kita akan ganti menyerang mereka itulah kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!

Itulah petikan pidato yang dikobarkan Bung Tomo untuk membangkitkan semangat juang Arek-arek Suroboyo melawan tentara Inggris dan NICA Belanda dalam pertempuran 10 November 1945 hanya dengan senjata bambu runcing.
Sutomo atau biasa dipanggil Bung Tomo memang dikenal sebagai orator ulung. Pria kelahiran Surabaya, 3 Oktober 1920 ini bahkan pernah menjadi wartawan dan sering memberitakan perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah.
Kali ini, Iklan Pos berkesempatan menelusuri perjalanan Bung Tomo di Museum Perjuangan 10 Nopember di area Tugu Pahlawan Surabaya.Bangunan museum ini berbentuk piramida dengan puncak limasnya berwarna biru. Bangunan yang terletak di bawah tanah ini dikelilingi kolam air yang dihiasi tanaman teratai.
Ketika masuk ke dalam museum, pengunjung langsung disapa dengan diorama dan siaran radio tentang orasi Bung Tomo saat membakar semangat arek-arek Suroboyo. Di tengah ruangan tampak 3 bambu runcing yang menjadi senjata arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah. Di samping museum, pengunjung bisa menyaksikan mobil kuno yang biasa digunakan Bung Tomo.
Memang, pahlawan nasional asal Surabaya yang meninggal saat menunaikan ibadah Haji pada tahun 1981 ini dilahirkan dari keluarga kelas menengah dan sangat menjunjung tinggi pendidikan. Ayahnya adalah asisten di Kantor Pajak Pemerintahan dan pegawai kecil di perusahaan ekspor impor Belanda. Meski dari keluarga berada, namun Sutomo kecil sudah terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras.
Setelah puas berkeliling museum, pengunjung bisa membeli oleh-oleh dengan nuansa Soerabaia Tempo Doeloe di Kios Roode Brugs Soerabaia Corner yang ada di luar museum. (noe