Tahun Ajaran Baru, Saatnya Konsultan Pendidikan Berburu

0

Mau kemana setelah lulus SMA ini ?

Pasti ada yang menjawab langsung bekerja, merintis bisnis, atau tidak sedikit pula yang memutuskan melanjutkan kuliah. Melihat kondisi saat ini, tuntutan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sudah menjadi kebutuhan. Tidak hanya perguruan tinggi dalam negeri, banyak juga masyarakat yang tertarik melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Apakah sekolah di luar negeri biayanya selalu mahal ?

Tidak. Saat ini banyak perguruan tinggi luar negeri yang menawarkan beasiswa dan kemudahan untuk menarik minat calon siswa. Untuk mempermudah akses dan pengurusan perizinan, saat ini juga banyak konsultan pendidikan yang siap memberi informasi dan membantu pengurusan mulai dari visa, persiapan kuliah dan syarat administrasi ke universitas yang diinginkan. Bahkan banyak juga jasa konsultan yang membantu calon siswa agar bisa bekerja sambil kuliah di untuk meringankan biaya pendidikan di luar negeri.

Dominggus Victor Ludong dari OBKG Surabaya, salah satu lembaga pendidikan yang memiliki akses pendidikan di Jepang mengakui minat masyarakat Indonesia untuk kuliah di Jepang sangat tinggi. Bahkan Jepang merupakan negara yang menerapkan biaya kuliah sangat murah bahkan gratis. “Kalau dihitung-hitung, biaya kuliah di Jepang sekitar Rp 5-6 juta per bulan, lalu biaya hidup sekitar Rp 5-7 juta per bulan. Jadi total Rp 10-13 juta per bulan. Tapi mereka juga bisa kerja part time. Di Jepang, gaji untuk pekerja di restoran bisa mencapai Rp 10-15 juta per bulan. Artinya, mereka bisa kuliah dan hidup disana secara gratis,” kata Dominggus kepada Iklan Pos.

Lalu bagaimana caranya ?

Disinilah peran konsultan jasa pendidikan sangat dibutuhkan karena minimnya informasi dan pengalaman. Tidak hanya di Jepang, negara lain yang banyak menjadi jujugan pelajar Indonesia adalah Australia. Banyaknya pilihan Universitas dengan berbagai jenjang pendidikan menjadi Australia sebagai negara yang banyak dituju pelajar dari Indonesia. Biasanya, sebelum memutuskan universitas yang akan dituju, calon mahasiswa harus memiliki ketrampilan bahasa inggris dan memilih jurusan sesuai bakat dan ketrampilannya.

“Sebelum kuliah, banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari syarat akademis sampai kemampuan bahasa inggris. Disini kami bisa bantu semua kebutuhan mereka, mulai dari pengurusan visa sampai menentukan jurusan yang tepat,” jelas Andreas Mariano dari PSC (Progress Study Consultancy).

Untuk menarik minat siswa dari Indonesia, mereka kerap melakukan pameran pendidikan dan memperkenalkan diri ke beberapa SMA. Dari situ diketahui bahwa ternyata banyak siswa yang ingin belajar ke luar negeri, namun tidak tahu bagaimana caranya. Sebelum menentukan negara dan kampus yang akan dituju, biasanya disesuaikan dengan kemampuan dan keinginan siswa yang bersangkutan. Karena setiap negara memiliki karakter dan budaya yang berbeda.

Semakin banyak siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, maka semakin besar pula peluang konsultan pendidikan untuk mengembangkan bisnisnya. Sebab tantangan dalam dunia kerja saat ini juga semakin besar, seiring dengan banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. (noe)

 

 
JASA KONSULTAN PENDIDIKAN TINGGI :Menjala Fee Dari Globalisasi

 

Dewasa ini, melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri sudah jadi tren. Prosesnya tidak lagi sulit. Ini tak lepas dari jasa konsultan yang memungkinkan kemudahan mulai dari informasi tentang kampus, konseling, pengurusan akomodasi dan visa. Bahkan layanannya hingga menyediakan jasa monitoring mahasiswa.

Jika ada mahasiswa yang mengalami penurunan prestasi, konsultan ini siap menjadi ‘sahabat’ untuk membantu kliennya ini.

Rata-rata bisnis konsultan pendidikan tinggi memburu potensi dari pertumbuhan pasar calon mahasiswa baru yang ingin berkuliah ke negeri tetangga dengan gencar dalam promosi dan menyediakan jasa konsultasi gratis.

Australia sejauh ini masih menjadi negara tujuan terfavorit, diikuti Singapura yang meskipun biaya kuliah dan biaya hidupnya tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan biaya hidup di Inggris atau luar kota London. Mereka meminati Bisnis,Engineering dan pendidikan seni sebagai program studi favorit.

Secara umum, pertumbuhan biaya hidup dan biaya kuliah di setiap negara mengalami penaikan sebesar 3% hingga 10% per tahun atau per 2 tahun sesuai regulasi yang berlaku dari kampus setempat. Namun kenaikan ini diklaim konsultan tidak menyurutkan minat sebagian pasar pelajar Indonesia, yang notebene adalah kliennya.

Klara Bunjamin, Pemilik Optima Educational Service, mengatakan pihaknya memilih menjalin kerja sama dengan banyak perguruan tinggi di Australia yang selama ini merupakan negara favorit tujuan pelajar dari Indonesia.

“Ini karena pengurusan visa ke sana relatif lebih mudah, nilai tukar dolar masih relatif rendah, di samping itu tersedia visa kerja bagi yang telah lulus kuliah, serta masa belajar yang lebih singkat dibandingkan dengan masa belajar di Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis.

Menurutnya, kliennya mengutamakan kepercayaan, kualitas, kenyamanan. Sementara itu, alasan lainnya adalah minat untuk mengenal budaya dan kemampuan berbahasa asing, networking dan kepercayaan dari dunia kerja terutama perusahaan multinasional.

Sementara itu, Eric Chen, Marketing Director Brightannica, salah satu konsultan yang baru saja membuka cabang di Perth, Australia, optimistis jumlah peminat pelajar Indonesia ke Australia meningkat.

“Dari data yang ada terdapat 300 pelajar yang berminat ke Australia pada 2012. University of New South Wales, masih menjadi universitas favorit. Ini diperkirakan akan bertambah antara 400-500 peminat,” ujarnya kepada Bisnis.

Habli Barky, Marketing Manager Sun Education Group, mengatakan meningkatnya pelajar meneruskan pendidikan tinggi di luar negeri didasari pertimbangan investasi jangka panjang.

“Setiap tahun semakin banyak. Networking jadi alasan yang cukup kuat mereka. Sejaun ini Bisnis merupakan jurusan dengan peminat terbesar,” ujarnya.

Sun Education menjadi induk dari tiga konsultan pendidikan yakni Next Generation , Erajasa Globalindo, serta International Student Services ini memiliki hampir 20 cabang di kota-kota besar di Indonesia a.l. Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar.

Secara terpisah, Sebastian Gunawan, Student Counselor Unistart, konsultan pendidikan di bawah manajemen Uni Shadu Guna mengatakan secara rerata, biaya hidup dan biaya kuliah per tahun meningkat sekitar Au$1.000 di Australia dan £1.000 di Inggris.

Secara umum, pertumbuhan biaya hidup dan biaya kuliah di setiap negara mengalami penaikan sebesar 3% hingga 10% per tahun atau per 2 tahun sesuai regulasi yang berlaku dari kampus setempat. Namun kenaikan ini diklaim konsultan tidak menyurutkan minat sebagian pasar pelajar Indonesia, yang notebene adalah kliennya.

Terlepas dari motivasi tersebut, bisnis konsultan pendidikan tergolong prospektif. Ketiga pengelola konsultan, Klara, Habli dan Sebastian optimistis kerja sama dengan pihak kampus yang menjadi mitra mereka akan lebih meningkat pada masa-masa mendatang seiring dengan peningkatan mobilitas pelajar dan mahasiswa.

Uni Shadu Guna, misalnya, jika pada tahun 2010 melalui unitnya, Unistart menjalin kerja sama dengan sembilan universitas di Australia, tiga Universitas di UK dan satu Universitas di Malaysia. Sekarang mereka bekerja sama dengan 10 Universitas, 16 College, satu engineering school serta satu institut di AS. Bahkan kini, Unistart juga membangun kemitraan dengan 19 universitas, college, yayasan dan sekolah di Australia serta memiliki link ke perguruan tinggi yang luas di Inggris.

Adanya perjanjian antara pihak lembaga konsultan dan pihak universitas tentu menjadi sumber pendapatan atau dalam bentuk komisi (fee).  Bahkan, Sebastian mengatakan tidak jarang pihak kampus juga memberikan bantuan untuk dukunganmarketing.

Meski demikian, tidak semua konsultan mengaku membuat kesepakatan khusus dengan universitas tertentu kecuali selalu menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.

Secara umum, pertumbuhan biaya hidup dan biaya kuliah di setiap negara mengalami penaikan sebesar 3% hingga 10% per tahun atau per 2 tahun sesuai regulasi yang berlaku dari kampus setempat. Namun kenaikan ini diklaim konsultan tidak menyurutkan minat sebagian pasar pelajar Indonesia, yang notebene adalah kliennya.

 

Melihat Peluang Bisnis Edukasi

 

Dengan populasi penduduk hampir 250 juta, termasuk 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan sistem pendidikan terbesar di Asia, bahkan keempat di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat. Kenaikan GDP, tingkat urbanisasi, dan kesadaran para orang tua akan pentingnya bersaing dan memenuhi standar internasional di dunia global menumbuhkan keinginan akan kualitas pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Dalam pendidikan formal, bisa dilihat dengan naiknya tingkat partisipasi siswa di tingkat tersier (perguruan tinggi) di Indonesia mencapai 27%, melampaui pertumbuhan populasi. Dalam pendidikan non formal, bisa dilihat oleh maraknya lembaga pendukung pembelajaran, seperti kelompok bermain, kursus bahasa, atau kursus musik.

CONSUMER BEHAVIOR

Ada kenaikan minat pada pendidikan non formal, kursus musik (rata-rata bertambah hingga 300 orang) dan kursus bahasa (khususnya Jepang). Dalam pendidikan formal, orang tua dengan pendapatan menengah ke atas mulai melirik sekolah internasional bersertifikat ISO 9001 atau mengadopsi kurikulum International Baccalaureate (IB).

Namun secara umum, perguruan tinggi publik masih menjadi pilihan. Data menunjukkan 32% angka partisipasi perguruan tinggi berasal dari 130 perguruan tinggi publik, sisanya dari 3.000 perguruan tinggi swasta.

BUSINESS TREND

Bimbingan belajar masuk PTN (perguruan tinggi negeri / publik) masih eksis walaupun pesaing ramai. Tren bisnis akan bergerak pada menjamurnya sekolah bertaraf internasional, kemunculannya membuka peluang bisnis untuk konsultan pendidikan dan penerimaan. Konsultan pendidikan membantu perancangan pendirian sekolah, mulai sistem keuangan hingga sumber daya manusia sampai basis datanya, sedangkan konsultan penerimaan membantu murid-murid sekolah internasional mengerti dan memenuhi kriteria penerimaan perguruan tinggi.

Home schooling dan online learning akan berkembang karena mampu disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu yang dimiliki pelajar. Home schooling menawarkan kebebasan kepada keluarga secara mandiri mengajar anaknya dimana saja, dapat dengan mengundang guru privat atau mendaftarkan anak pada kursus. Online learning adalah metode belajar-mengajar mandiri tanpa tatap muka menggunakan media elektronik, khususnya internet, sehingga proses pengiriman bahan ajar dan tugas dapat timbal-balik terjadi.

Sementara untuk pendidikan non formal, kursus bahasa khususnya Jepang, layak untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa minat orang Indonesia yang ingin belajar bahasa Jepang mencapai 720 ribu. Bila diibaratkan, setiap 5 orang yang belajar bahasa Jepang di luar negeri, 1 diantaranya adalah orang Indonesia. Bisnis tinggi peminat ini tentu potensial bila didukung dengan prasarana, pengajar, dan kurikulum yang fleksibel.