Putri Pemilik Perusahaan yang Mengawali Karir Sebagai Pekerja Gudang

0

peopleMungkin dalam benak sebagian orang, menjadi anak pemilik sebuah perusahaan pastinya akan langsung dapat posisi yang bagus di perusahaan tersebut. Namun tidak demikian yang dialami oleh Oktavia Soenardi, General Manager PT Gading Murni. Meskipun ia adalah anak pemilik perusahaan PT Gading Murni ia tidak langsung menjabat posisi yang tinggi. Melainkan ia mengawali karirnya sebagai pegawai gudang.okta
Oktavia menuturkan bahwa ia pertama kali bergabung di PT Gading Murni pada tahun 2008. Saat itu ia mengawali karirnya dengan bekerja sebagai karyawan gudang, mulai dari cek barang, menata barang dll.
Sebenarnya gadis yang gemar fotografi ini awalnya belum tertarik terjun ke dunia kerja. Namun karena pada saat itu sang ayah memintanya untuk bergabung, akhirnya dia gabung dengan perusahaan ayahnya. Ayah saya saat itu bilang ”Sudah, kamu balik aja, berikan apa yang sudah kamu pelajari di luar negeri”. ”Terus terang pertama kali diminta untuk bergabung, saya benar-benar tidak mau, karena dalam hati “ngeliatnya kok ruwet”, dalam artian bisnis sudah besar, tetapi yang dihadapi terlalu ruwet” ucap Okta.
Gadis yang hobi travelling ini menceritakan, pada waktu pertama kali masuk, ia tidak diberi tahu apapun, tidak diajari apapun dan dilepas begitu saja di perusahaan. Papa bilang “Sudah ya, tak tinggal, papa kerja kamu keliling sendiri, lihat-lihat sendiri kira-kira apa yang bisa kamu perbaiki”. Menurutnya hal seperti ini sangat bagus, karena kalau tidak diperlakukan seperti itu, mungkin ia tidak akan berani sampai sekarang, mengertinya hanya menyuruh orang. Dari sini, ia dituntut untuk memberikan gambaran yang ia miliki mengenai apa yang lebih urgent untuk diperbaiki.
Sebagai orang yang baru bergabung dalam sebuah perusahaan, tentunya ada beberapa kendala yang biasanya dihadapi. Gadis kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1987 ini juga memiliki beberapa kendala yang dihadapi, antara lain mindset yang berbeda. Mungkin yang dulu lebih konvensional tidak terlalu mau berubah secara drastis atau gimana, dan mereka masih beranggapan beberapa tahun masih jalan kenapa harus berubah. ”Untung ayah saya orang yang selalu mengikuti jaman, jadi saya punya ide saya sampaikan dan beliau sangat mendukung”, ungkap Okta.
Beberapa hal yang dibenahi adalah sistem perusahaan. Menurutnya, dalam sebuah perusahaan kor yang paling utama ada produk/ service dan running bisnis. Inilah dua hal terpenting yang harus saya lakukan dari awal. Selama dua tahun ia berusaha untuk membenahi sistem, membuat prosedur dan peningkatan SDM yang ada. Karena dari segi produk dan service sudah berjalan dan berkembang dengan baik. Pada tahun ini targetnya adalah mulai merambah ke pengembangan ritel. Saat ini terdapat enam cabang Gading Murni antara lain di Surabaya, Jakarta, Malang, Bali dan Kupang.
Selain itu, alumni MDIS Singapura ini mempunyai target untuk mengembalikan brand Gading Murni. “Mungkin orang tua ketika mendengar kata gading murni pasti mereka tau oh gading murni dari jaman kakek nenek dulu, tapi bagi yang muda-muda pasti kurang familiar dan bertanya-tanya, Gading Murni itu apa ya…, jadi saya ingin brandnya diinget generasi ke generasi”, ucap Okta.
Saat disinggung mengenai omzet yang diperoleh perusahaan setelah dibawah naungannya, ia mengatakan bahwa berdasarkan data terakhir, terdapat kenaikan sekitar 10%. Menurutnya, kenaikan sebesar itu sudah cukup baik, karena terus terang tidak mudah mengubah fondasi yang sudah 60 tahun berjalan dan butuh waktu yang tidak sedikit. “Mungkin 1-2 tahun saya tetap fokus yang sama, kalau nanti sudah kuat baru mengembangkan yang lainnya”, tutup Okta.