Mompreneur Tidak Tercipta, Tapi Diciptakan

0

Wanita merupakan sosok yang sangat hebat. Di dalam dirinya ada kasih sayang, kelembutan dan kekuatan dalam menjalani hidup. Mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi lebih mengutamakan kebutuhan keluarga, mulai dari mengurus kebutuhan anak, kebutuhan rumah, sampai perekonomian keluarga.

Fenomena saat ini, banyak wanita yang berperan ganda. Selain menjadi ibu rumahtangga, mereka juga mempunyai bisnis untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka inilah yang dikenal sebagai Mompreneur.

Mayoritas, alasan utama seseorang menjadi Mompreneur adalah Kebebasan Waktu. “Kalau punya bisnis sendiri, kita bisa mengatur waktu. Kapan harus ngurus kebutuhan anak dan kapan harus ngurus bisnis,” jelas Lela Trisnawati, Pemilik Ole Olang Resto kepada Iklan Pos, Jumat (10/6).

Diakui bahwa dengan menjadi Mompreneur, dia tidak hanya bisa membantu perekonomian keluarga, namun juga bisa lebih dekat dengan anak-anak. Bahkan secara tidak langsung bisa melatih anak untuk menjadi pebisnis. Bisa jadi, sebab sejak kecil anak-anak itu sudah dikenalkan dengan dunia bisnis.

Alasan lainnya adalah bisa menjadi Bos bagi diri sendiri. Menjadi mompreneur mengharuskan kita untuk bisa mengatur semua kebutuhan sendiri. Apabila sudah memiliki karyawan, maka kita diharuskan bisa mengayomi mereka.

Dibalik kesuksesan tersebut, ternyata banyak latar belakang seorang ibu menjadi mompreneur. Ada yang termotivasi  untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ada yang sekedar mengisi waktu luang, menyalurkan hobi, bahkan ada yang untuk membunuh rasa jenuh.

Kunci sukses mompreneur terletak pada diri mompreneur itu sendiri. Sebelum menentukan bisnis apa yang akan dijalani, dia harus mengenal potensi dirinya. Apa yang bisa dilakukan, bagaimana mengatur waktu antara bisnis dan keluarga, dan siapa saja yang akan mendukung bisnisnya. Ini sangat penting, karena sebagai pebisnis yang juga ibu rumah tangga, dia tidak bisa menggunakan seluruh waktunya untuk bisnis. Sehingga dia membutuhkan oranglain untuk mendukung dan mengembangkan bisnisnya.

Mompreneur sendiri tidak bisa tercipta secara instan, namun harus diciptakan. Maksudnya, seseorang tidak bisa meng-klaim dirinya sebagai pebisnis jika dia tidak mau bekerja dan berkreasi. Contoh, berjualan takjil selama bulan puasa tidak bisa dikatakan mompreneur. Namun jika gara-gara jualan takjil selama puasa mendapat omzet besar dan termotivasi melanjutkan penjualannya dengan berbagai risiko, maka itulah mompreneur sejati. Motivasi yang besar inilah yang menjadi modal seseorang menjadi pebisnis, termasuk mompreneur.

Kondisi ini seakan mematahkan anggapan bahwa kodrat wanita hanya dirumah, mengurus anak dan suami. Kenyataannya, saat ini banyak wanita super yang selain pandai dalam mengurus keluarga, juga ahli dalam mengembangkan potensi diri melalui bisnis. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang memiliki penghasilan diatas suaminya yang bekerja di kantoran. (noe)