Dubai World Menggoncang Dunia

0

burjdubaiSecara mengejutkan, pada hari Kamis 26 Nopember, Dubai World mengumumkan kondisi tidak mampu membayar kewajiban yang jatuh tempo. Perusahaan investasi pemerintah Dubai ini kesulitan membayar sejumlah 59 milyar dolar atau sekitar 550 triliun kepada para investornya. Pengumuman ini langsung saja membuat guncangan finansial di seluruh dunia, dari daratan Eropa sampai Indonesia. Bursa Eropa, Amerika, Asia, rontok hampir secara bersamaan. Momen pengumuman menjelang libur panjang sepertinya disengaja untuk menahan guncangan pasar yang lebih dalam. Libur panjang Thanksgiving day di Amerika dan Idul-Adha di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Bursa yang sedang tidak libur, menderita tekanan hebat, Hongkong minus 7,1%, Korea minus 5%, Taiwan minus 3,2%. Jum’at malam Amerika turun 1,7% di S&P indeks, sedangĀ  Indonesia masih menunggu hari Senin setelah libur Idul-Adha. Banyak yang memprediksi akan terjun bebas mengikuti bursa regional.
Dubai World menaburkan banyak investasinya pada proyek properti ambisius lewat anak-anak perusahaan, diantaranya Nakheel dan Limitless. Tercatat juga Limitless juga berkontribusi membangun proyek prestisius di kawasan Kuningan bersama dengan Bakrie group.
Proyek-proyek ambisiusnya membuat orang berdecak kagum, bangunan super jangkung Burj Dubai, pelabuhan terbesar, airport termegah, pulau-pulau buatan di Palm Jumeirah ternyata dibiayai dengan duit utangan, bukan hasil penjualan minyak. Hal ini dikarenakan Dubai bukan lagiĀ  penghasil minyak yang besar, ekonominya sangat bergantung pada industri pariwisata. Menyadari hal itu pemerintah Dubai menggenjot investasi di bidang pariwisata dengan membangun berbagai proyek properti prestisius, dan malah agak kebablasan. Tetapi genjotan tersebut terlalu kencang, hutang kemana-mana sedang penghasilan masih belum menentu. Krisis dari Amerika tahun lalu pelan-pelan menyeret Dubai, dan akhirnya sekarang membuyarkan angan-angan Dubai sebagai negara Arab yang modern di bidang keuangan dan pariwisata. Proyek-proyek prestisius harus dikaji ulang, dari masalah pendanaan sampai penghasilan yang diharapkan.
Besarnya dana yang macet telah membuat dunia keuangan sadar bahwa krisis belum selesai, setelah Dubai World.. siapa lagi yang akan ketularan?
Gagal bayar Dubai World dikuatirkan menyeret negara Emirat Arab yang lain dan menempatkan mereka pada posisi dilematis, menolong harus keluar ongkos, tidak menolong nanti ketularan.
Walaupun harga minyak sempat jatuh sekitar 2,5% karena panic selling oleh investor, tetapi hal ini dapat berbalik 180 derajat jika proses penyembuhan Dubai adalah dengan cara meningkatkan pendapatan dari minyak untuk membayar kewajiban. Nah, kalau hal ini yang terjadi, Indonesia adalah termasuk 10 negara pengimpor minyak terbesar, meskipun jauh dari Teluk Persia pasti akan ketularan juga.
Anda sudah siap dengan krisis berikutnya?
oleh: Anton Hardiawan