7 Gangguan Tidur yang Wajib Diwaspadai

0

Tidur seharusnya menjadi waktu untuk relaksasi. Sebagian besar dari kita memiliki siklus yang bisa diprediksi saat tidur, yaitu, fase tidur non-REM (rapid-eye-movement) kemudian diikuti fase penuh mimpi, yakni fase REM. Ketika batas antarfase itu kabur dan mengganggu waktu tidur terganggu, ada banyak hal yang dalam hidup yang ikut terganggu. Berikut ini tujuh hal yang bisa mengganggu tidur:

Teror Malam
7628818_20150730090242
Berteriak, meronta-ronta, panik, dan mondar-mandir umumnya dilaporkan orang dengan kondisi night terror. Tidak seperti mimpi buruk yang timbul di fase REM, teror malam terjadi selama tidur non REM, biasanya di awal fase tidur.

Paling umum terjadi pada anak-anak. Orang yang mengalami teror malam tiba-tiba duduk tegak, mata terbuka, meskipun mereka tidak benar-benar melihat. Orang tersebut sering berteriak atau menjerit, dan tidak dapat dibangunkan atau ditenangkan.

Dalam beberapa kasus, teror malam bercampur dengan tidur sambil berjalan. Orangtua melaporkan anak berkeliaran rumah dalam keadaan panik. Setelah 10 atau 15 menit, orang tersebut biasanya mengendap kembali tidur, menurut National Institutes of Health. Kebanyakan orang dengan masalah ini tidak ingat apa pun yang mereka lakukan ketika teror malam terjadi di keesokan harinya.

Penyebab teror malam adalah sebuah misteri, tetapi demam, tidur tidak teratur, dan stres dapat menjadi pemicu. Untungnya, menurut ASA, teror biasanya memudar setelah usia bertambah.

Ketindihan atau Sleep paralysis
7628818_20150730090307
Selama fase REM, aktivitas bermimpi akan meningkat dan otot-otot berdiam seakan lumpuh. Kelumpuhan sementara ini sebenarnya mengamankan diri supaya tidak bertindak seperti aktivitas yang ada di mimpi. Namun, kelumpuhan bisa tetap terjadi setelah terbangun. Ini yang sering dikira dengan “ketindihan”.

Seringnya, masalah Sleep Paralysis ini terjadi bersamaan dengan halusinasi. Dalam satu penelitian yang diterbitkan 1999 dalam Journal of Sleep Research, 75 persen dari mahasiswa yang telah mengalami kelumpuhan tidur secara simultan melaporkan halusinasi. Bentuk “favorit” halusinasinya adalah merasakan kehadiran sesuatu yang jahat, bersama dengan perasaan tercekik. Paduan sleep paralysis dan halusinasi itu kemudian menjadi banyak cerita rakyat di seluruh dunia.

Tidur Berjalan atau Sleepwalking
7628818_20150730090608
Setidaknya ada 15 persen orang dewasa yang mengalami masalah tidur berjalan. Angkanya lebih tinggi pada anak-anak. Tidak ada yang tahu alasan mengalami tidur berjalan, tetapi stres dan susah tidur diperkirakan menjadi faktor utama. Genetika juga bisa menjadi faktor penyebab. Saudara sedarah orang yang bermasalah dengan tidur berjalan 10 kali lebih mungkin untuk melakukan hal yang sama dibanding populasi umum.

Orang yang tidur berjalan tidak membahayakan, namun tidur sambil berjalan sendiri bisa berbahaya. Terjatuh dan tersengat listrik adalah dua bahaya terbesar bagi orang dengan kondisi tidur berjalan.

Mengigau atau sleep-talking.
7628818_20150730090608
Sleep Talking adalah satu keadaan dimana seseorang individu bercakap atau menggumam ketika tidur tanpa disedari. Mereka yang mengalaminya tidak tahu apa yang telah berlaku setelah bangun daripada tidur. Separuh dari kanak-kanak berusia antara tiga hingga sepuluh tahun mengalaminya. Hanya 5% aja orang dewasa yang masih mengalami sleep talking.

Tentu ada yang berpendapat bahawa Sleep Talking terjadi ketika mimpi, tetapi para ilmuwan masih belum dapat memastikan jika masalah tidur ini mempunyai kaitan dengan mimpi ngeri yang dialami oleh individu tersebut.

Mimpi Buruk
7628818_20150730090623
Orang dengan gangguan mimpi buruk sering terbangun dengan kenangan mimpi yang mengerikan. Efek dari mimpi buruk yang berulang dan parah umumnya akan mengganggu kehidupan nyata. Sering mengalami mimpi buruk pun sering membuat penderitanya takut tidur.

Untuk kasus-kasus umum, mimpi buruk bisa dienyahkan dengan menghilangkan/menyelesaikan penyebab utama stres, atau dengan memberi kesempatan diri untuk bersantai, juga mencukupi kebutuhan durasi tidur.

Sementara untuk yang mengalami masalah mimpi buruk yang parah, disarankan untuk melakukan konseling dengan terapis atau menemui dokter untuk mendapatkan obat penenang.

Seksomnia
7628818_20150730090642
Seks ketika tidur atau seksomnia kali pertama dijelaskan dalam studi kasus kepada tujuh orang di tahun 1996. Seksomnia dapat berkisar dari hanya mengganggu (dengan erangan seksual yang keras), berbahaya (masturbasi yang berbahaya), sampai kriminal (kekerasan seksual atau pemerkosaan). Dalam setidaknya lima kasus kontroversial, pria telah dibebaskan dari penyerangan seksual dengan menyatakan bahwa mereka tertidur selama serangan itu.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada tahun 2007 oleh jurnal Psychiatry Social dan Psychiatric Epidemiology menunjukkan, kurang tidur, stres, alkohol, obat-obatan, dan kontak fisik dengan pasangan tidur cukup berperan dalam gangguan ini.

Sindom Kepala Meledak
7628818_20150730090706
Gangguan ini bukan benar-benar terjadi ledakan pada kepala, melainkan kejutan suara keras yang hanya didengar oleh penderitanya selama awal tidur nyenyak.

Suara yang didengar bisa bervariasi, mulai dari simbal jatuh hingga suara ledakan seperti bom. Untuk orang yang mengalami masalah ini, ledakan seakan berasal tepat di samping kepala atau di dalam tengkorak kepalanya. Tidak ada rasa sakit atau bahaya yang dialami penderitanya. Dokter tidak tahu apa yang menyebabkan sindrom ini, namun tidak ada indikasi terkait penyakit serius.