Bangkit Dengan Industri Manufaktur




Pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia, terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, salah satu industri manufaktur dikota Surabaya, dengan pertumbuhan yang sangat pesat adalah Grandfood. Grandfood adalah sebuah industri manufaktur yang bergerak dibidang prod23uksi makanan olahan, sebagai suplayer untuk perusahaan waralaba, hotel, catering dan lain sebagainya. Meski pertamakali awal produksi dimulai pada ahir tahun 2005, pertumbuhan bisnis ini sangat pesat, dan sudah merambah beberapa kota besar di seluruh Indonesia.

Keberhasilan Grandfood bermain di industri manufaktur ini tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin dan kepiawaian Dodo Arief Dewanto sebagai Managing Director sekaligus Owner dari Grandfood. Pria yang akrab dipanggil Dodo ini, sejak kecil sudah mempunyai jiwa Entrepreneursip, mungkin karena keluarga besar dan orang tuanya adalah seorang pengusaha, yang kerap kali mengilhami dan menginspirasi Dodo kecil, bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Semasa kuliah pria yang hobi travelling ini, sudah mulai berbisnis. Selepas kuliah sempat bekerja dibeberapa perusahaan, dan saat itu juga mempunyai bisnis, tapi belum dikelola atau di organisir dengan baik.

Sejak awal alumni tehnik elektro ITS angkatan 1993 ini, sudah merencanakan hanya akan bekerja sekian tahun, setelah semua yang Dia butuhkan untuk start up awal latihan usaha benar-benar tercukupi, maka Dodo mencoba untuk membuka usaha sendiri. Cikal bakal usahanya ini dimulai sejak tahun 2004, awalnya bukan mengarah langsung ke makanan tapi masih ke jasa-jasa engginering sesuai bidang yang Dia tekuni, tapi lama kelamaan setelah dipilah dan dipilih ahirnya mencoba usaha makanan, awalnya pesan produk lalu dijualnya. Ahirnya Dodo melihat bahwa Dia memiliki kekuatan dibidang manufaktur, dan mulai pindah kesana.

Saat ini Dodo sudah memperkerjakan banyak orang, bagian produksi sekitar 55 orang, sedangkan untuk supportnya mulai dari admin, pengiriman, manajer produksi, quality qontrol, sales & distributionnya sekitar 75 orang. Masa sulit baginya adalah satu paket dengan usaha yang Dia lakukan. Ibarat olah raga tinju, pastikan kita tidak hanya memukul saja, pasti suatu saat kita juga akan terpukul, sebagai tolak ukur bahwa ada kekuatan sebesar itu di luar, sehingga kita bisa menghindar atau kita bisa terima, tapi pada posisi yang powernya tidak begitu kuat. Ketika kita jatuh, kita pahami bahwa itu adalah suatu proses yang harus kita jalani, dan bagaimana cara kita melewati itu, tegas pria yang lahir di Blitar 37 tahun yang lalu ini.

Motto hidupnya adalah lebih cepat dan lebih cepat lagi, bagaimana seefisien mungkin dalam bekerja, sesingkat mungkin usaha itu bisa memperoleh hasil, padahal secara alami yang cepatpun akan cepat juga posisi jatuhnya. Baginya kondisi ini masih proses, Dia menganggap ini juga sukses, sukses adalah sebuah proses, bahwa nanti ada kesuksesan kesuksesan baru, itulah yang Dia harapkan juga, yang jauh lebih baik daripada hari ini. Menurutnya pembelajaran baru akan memperkaya khasanah keilmuan, kalo mau berentrepreneur ria, masuklah kedunia manufaktur, kalo kita rame-rame beberapa tahun kedepan, mungkin kita akan sedikit bisa mengimbangi China, yang industrialisasinya merupakan salah satu kebangkitannya.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*